"Pak Lurah inilah yang bangunkan rumah untukku," ujar Sunety sambil tersenyum di rumahnya, Kelurahan Air Kepala Tujuh, Gerunggang, Pangkalpinang, Babel, Kamis (4/8/2016).
"Bukan saya, tapi gotong royong warga," kata Junisko meralat ucapan Sunety sambil melangkah masuk ke dalam rumah berukuran 3,5x5 meter tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nenek Sunety di rumah barunya, Kamis 4 Agustus 2016 |
Menurut Sunety, sebetulnya dirinya masih memiliki keluarga. Sejak suaminya meninggal 17 tahun yang lalu, dia hidup bersama anak tirinya. Namun karena permasalahan warisan, pada akhir bulan Mei lalu, Sunety dipaksa pergi dari rumah. Alhasil, nenek yang tampak selalu bersemangat ini hidup terlantar.
"Ku diusir sama anak tiri. Jadilah aku menginap sementara di rumah kawan. Lalu kami lapor ke RT," katanya dengan mata berkaca-kaca dan suara sengau.
Ketua RT kemudian melapor ke Lurah Junisko. Mereka langsung membuat proposal dan meminta bantuan warga setempat. Sebab jika harus menunggu anggaran turun, akan memakan waktu lama. Berkat tingginya kepedulian warga, sehari sebelum puasa, pembangunan rumah Sunety dapat dimulai.
"Kami juga ndak nyangka. Memang rezeki Nenek, alhamdulillah bantuan mengalir terus sampai bisa selesai dibangun. Bahkan masih ada saldo Rp 600.000 dari donatur," kata Junisko menambahi.
Sosok Sunety yang tampak selalu bersemangat dan tak pernah menyerah ini juga memicu warga untuk semakin giat membantu. Meski sudah cukup renta, dia masih mampu membuatkan kudapan untuk para pekerja yang membangunkan rumahnya. Sunety juga tidak tampak putus asa meski telah ditinggalkan keluarga. Hingga akhirnya 4 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1437 H lalu, Sunety akhirnya menempati rumah baru.
"Alhamdulillah lebaran di rumah baru. Banyak tetangga yang kasih ketupat, opor dan minuman ringan. Dapat THR juga Rp 1 juta," kata Sunety sambil tersenyum meskipun matanya masih tampak berkaca-kaca.
Nenek Sunety dan Lurah Air Kepala Tujuh, Junisko |
Kini setelah rumahnya selesai dibangun, perempuan kelahiran Bandung, 14 April 1939 ini tak lantas berpangku tangan. Ia rajin membersihkan rumput di sekitar rumahnya agar terhindar dari ular atau binatang berbahaya lainnya. Sunety bahkan berencana berjualan makanan di Alun-alun Taman Merdeka untuk menopang kehidupannya sehari-hari. Namun tetangganya melarang, karena jaraknya terlalu jauh dari rumah.
"Jadi nanti berjualan di depan rumah saja," kata Sunety.
Sementara itu, Junisko menjelaskan, terkait status rumah Sunety, pihaknya akan segera membuat surat perjanjian yang menjelaskan bahwa rumah tersebut hanya berhak ditempati Sunety, tidak untuk diwariskan atau dipindahtangankan. Nantinya jika Sunety pindah atau tutup usia, rumah ini akan menjadi aset Kelurahan Air Kepala Tujuh.
"Nanti bisa jadi rumah singgah. Kalau ada warga yang membutuhkan tempat tinggal 1-2 orang, bisa ditempati," terangnya. (khf/trw)












































Nenek Sunety di rumah barunya, Kamis 4 Agustus 2016
Nenek Sunety dan Lurah Air Kepala Tujuh, Junisko