Cara Menikmati Lukisan 'Harta Karun' Istana di Galeri Nasional

Cara Menikmati Lukisan 'Harta Karun' Istana di Galeri Nasional

Annisa Trimirasti - detikNews
Minggu, 31 Jul 2016 12:27 WIB
Cara Menikmati Lukisan Harta Karun Istana di Galeri Nasional
Foto: Twitter @jokowi
Jakarta - Untuk pertama kalinya lukisan-lukisan Istana Kepresidenan dipamerkan ke publik. 'Harta karun' berupa koleksi lukisan yang terpajang di sudut-sudut ruang Istana Merdeka dan Istana Negara dapat dinikmati oleh masyarakat di Galeri Nasional.

Pameran yang bertajuk "17|71: Goresan Juang Kemerdekaan" tersebut akan diresmikan pada 1 Agustus 2016, dan dibuka untuk publik mulai tanggal 2 hingga 30 Agustus 2016. Pengunjung bisa datang mulai pukul 09.00-19.00 WIB.
Dari informasi yang dikumpulkan di lokasi pameran, pengunjung bisa mendaftarkan diri secara online maupun offline dengan cara datang langsung ke Galeri Nasional Jl. Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat. Tak ada biaya, semua bisa dinikmati secara gratis.

Jika ingin daftar online, Anda harus men-download aplikasi 'Goresan Juang Kemerdekaan' di Google Play Store. Setelah itu lakukan registrasi dengan masukan nama, nomor telepon dan email Anda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui email itu, Anda akan mendapat nomor registrasinya. Nah, nomor registrasi itu nantinya diserahkan ke pintu masuk galeri nasional untuk ditukar dengan ID Card. Ingat, nomor registrasi itu hanya berlaku untuk sekali masuk. Satu orang maksimal bisa mendaftarkan lima orang termasuk pendaftar.

Pameran digelar atas kerja sama Kemensetneg, Kemdikbud, Badan Ekonomi Kreatif, dan Mandiri Art. Sebelumnya Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat menikmati karya-karya bersejarah anak bangsa berkelas dunia itu.

"Ada 28 lukisan maestro, koleksi Istana yg dipamerkan di Galeri Nasional 2 s/d 30 Ags. Ayo ajak teman & keluarga -Jkw," ucap Presiden Jokowi dalam akun twitternya @jokowi.

Ada 28 lukisan dari 21 pelukis. Berikut daftar koleksi lukisan Istana Kepresidenan yang akan ditampilkan:

1. Affandi, Laskar Rakyat Mengatur Siasat, 1946
2. Affandi, Potret H.O.S. Tjokroaminoto, 1946
3. Basoeki Abdullah, Pangeran Diponegoro Memimpin Perang, 1949
4. Dullah, Persiapan Gerilya, 1949
5. Harijadi Sumadidjaja, Awan Berarak Jalan Bersimpang, 1955
6. Harijadi Sumadidjaja, Biografi II di Malioboro, 1949
7. Henk Ngantung, Memanah, 1943 (reproduksi orisinal oleh Haris Purnomo)
8. Kartono Yudhokusumo, Pertempuran di Pengok, 1949
9. Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro, 1857
10. S.Sudjojono, Di Depan Kelambu Terbuka, 1939
11. S. Sudjojono, Kawan-kawan Revolusi, 1947.
12. S. Sudjojono, Markas Laskar di Bekas Gudang Beras Tjikampek, 1964
13. S. Sudjojono, Mengungsi, 1950
14. S. Sudjojono. Sekko (Perintis Gerilya), 1949
15. Sudjono Abdullah, Diponegoro, 1947
16. Trubus Sudarsono, Potret R.A. Kartini, 1946/7
17. Gambiranom Suhardi, Potret Jenderal Sudirman, 1956
18. Soerono, Ketoprak, 1950
19. Ir. Sukarno, Rini, 1958
20. Lee Man-Fong, Margasatwa dan Puspita Nusantara, 1961
21. Rudolf Bonnet, Penari-penari Bali sedang Berhias, 1954
22. Hendra Gunawan, Kerokan, 1955
23. Diego Rivera, Gadis Melayu dengan Bunga, 1955
24. Miguel Covarrubias, Empat Gadis Bali dengan Sajen, sekitar 1933-1936
25. Walter Spies, Kehidupan di Borobudur di Abad ke-9, 1930
26. Ida Bagus Made Nadera, Fadjar Menjinsing, 1949
27. Srihadi Soedarsono, Tara, 1977
28. Mahjuddin, Pantai Karang Bolong, tahun tak terlacak (sekitar 1950-an) (ega/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads