Humas SBBS, Arie Mayang, saat ditemui wartawan di sekolah tersebut mengakui bahwa SBBS Gemolong menjalin kerjasama selama 8 tahun dengan PASIAD, sebuah lembaga pendidikan asal Turki. Namun dia menegaskan bahwa segala bentuk kerjasama dengan PASIAD telah dihentikan semenjak bulan Juni 2016 lalu.
"Semua tenaga pengajar asal Turki di SBBS Gemolong ini juga sudah dipulangkan seiring selesainya kerjasama tersebut. Demikian juga seluruh fasilitas yang mereka gunakan selama menjajar di sekolah kami. Karena itu kami sudah tidak ada sangkut-paut lagi dengan persoalan yang terjadi (di Turki)," ujar Arie, Jumat (29/7/2016) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sragen Bilingual School (Muchus Budi R) |
Setelah tidak lagi menjalin kerjasama dengan PASIAD, kata Arie, sekolah setingkat SMP dan SMA dengan sistem tinggal di asrama itu tetap berjalan seperti biasanya. Namun diakui saat ini pihak sekolah masih mencari dan menjajaki berbagai kemungkinan kerjasama dengan lembaga pendidikan asing (LPA) yang tepat untuk ikut mengelola sekolah bilingual itu.
Diakui pula bahwa di sekolah tersebut dulu pernah diajarkan buku-buku karangan Fethullah Gulen, tokoh yang saat ini menjadi sosok paling dimusuhi oleh rezim Erdogan di Turki. Buku-buku tersebut sempat dijadikan salah satu bacaan wajib bagi para siswa di SBBS Gemolong.
"Sekarang sudah tidak lagi diajarkan di sekolah kami. Semua buku itu disimpan dan tidak lagi boleh dipinjam atau dibaca oleh siswa," kata Arie. (mbr/mad)











































Sragen Bilingual School (Muchus Budi R)