Pemkot Bandung Diminta Bantu Bocah Ririn Penderita Hidrosefalus

Pemkot Bandung Diminta Bantu Bocah Ririn Penderita Hidrosefalus

Mukhlis Dinillah - detikNews
Minggu, 17 Jul 2016 15:17 WIB
Foto: Mukhlis Dinillah/detikcom
Bandung - Enam tahun melawan penyakit hidrosefalus, Ririn Arianti (6) belum pernah tersentuh uluran tangan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Bahkan bocah malang itu mengalami gizi buruk lantaran kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan.

Salah seorang tokoh masyarakat, Ahyat (40) menilai kasus Ririn menjadi tamparan bagi pemerintah. Betapa tidak, keberadaannya yang tak jauh dari pusat pemerintahan tapi luput dari pantauan.

"Ada warganya yang menderita dari kelurahan atau kecamatan saja tidak tahu apalagi wali kota. Padahal rumah mereka di tengah kota," kata Ahyat kepada detikcom di rumahnya Jalan Kamasan RT07/RW07, Kelurahan Kebonjeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Minggu (17/7/2016).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahyat mengatakan pengurus RW telah berupaya semaksimal mungkin memberikan pertolongan kepada Ririn. Ririn pun mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan untuk bisa mendapatkan berobat.

Namun, keluarganya urung membawa Ririn ke rumah sakit lantaran kondisinya tak memungkinkan. Sehingga, sambung dia, butuh fasilitas untuk membawa Ririn ke rumah sakit.

"Dibawa dengan angkot saja itu sulit, apalagi jalan. Pasti repot. Butuh bantuan seperti ambulans," kata Ahyat.

Ahyat pun berharap Pemkot Bandung bisa segera membantu Ririn, mulai dari pengobatan hingga pemenuhan kebutuhannya. Tak hanya pemerintah, ia pun meminta dermawan yang ada di Kota Bandung memberi perhatian kepada Ririn.

"Pasien obesitas saja bisa ditangani dan masuk RSHS tanpa biaya. Kok ini tidak bisa ditangani. Ririn harus diberi perhatian lebih karena dia menderita sakit," ujar Ahyat.

Anggota DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama mengaku bakal memfaslitasi Ririn agar bisa segera mendapatkan perawatan secara medis. Ia mengaku akan meminta intansi terkait untuk segera memberikan bantuan kepada Ririn.

"Nanti saya akan dorong juga dinas kesehatan unuk memberikan pengobatan secara berkelanjutan termasuk ambulans untuk merujuknya ke rumah sakit," kata Aan

Sementara itu orang tua Ririn hanya bisa pasrah melihat kondisi buah hatinya. Ekonomi keluarga yang terbilang sulit, membuat Tatang (48) dan Elih (44) tak bisa berbuat banyak.

Senyum yang tergambar dari wajah Ririn menjadi satu-satunya obat penawar kesedihan atas nasib tak beruntung yang menimpa putri bungu mereka.

"Setiap lihat Ririn senyum itu rasanya bahagia sekali. Walaupun kami tau Ririn sedang merasakan sakit di kepalanya," kata Ibunda Ririn, Elih.

Elih menuturkan, momen-momen tersenyum Ririn itu saat ayahnya mengajak berbicara Ririn. Sesekali respon Ririn hanya tersenyum bukan berbalas kata-kata.

Selain saat berinteraksi dengan sang ayah, Ririn juga tersenyum tatkala kumandang suara adzan terdengar begitu kencang. Saat itu juga Ririn akan tersenyum bahagia.

"Udah sejak umur empat tahun Ririn kalau denger adzan suka senyum. Soalnya masjid juga deket rumah jadi kedengeran sekali," tutur Elih.

Meski sudah berusia enam tahun, Ririn berlaku seperti balita yang baru beberapa bulan lahir. Jika ingin sesuatu hal Ririn hanya bisa menangis untuk memberitahukan kepada orang tuanya.

"Kalau haus, laper atau pipis pasti Ririn nangis. Kan belum bisa bicara jadi kayak bayi lagi, caranya nangis," ujar dia.

Ririn sehari-harinya hanya bisa menikmati bubur buatan ibunya. Susu menjadi makanan termewah yang bisa dikonsumsinya, itu pun tidak tiap hari. Sehingga kondisi tubuh Ririn tidak berkembang lantara minimnya asupan gizi.

Lingkar kepala Ririn kini mencapai 84 centimeter. Ririn hanya bisa terbaring lemas di kasur tipis dengan beralaskan bantah yang menahan beban kepalnya.

Tempat tinggal Ririn berada di sebuah gang sempit pinggir sungai. Kondisi rumahnya cukup mengkhawatirkan. Ririn tinggal bersama lima anggota keluargnya di Gang Aman No 5, RT04 RW09, Kelurahan Kebun Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. (ega/ega)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads