Tindakan Medis ke Arya, RSHS Siapkan Program Diet: Tak Perlu Sedot Lemak

Tindakan Medis ke Arya, RSHS Siapkan Program Diet: Tak Perlu Sedot Lemak

Avitia Nurmatari - detikNews
Rabu, 13 Jul 2016 17:56 WIB
Tindakan Medis ke Arya, RSHS Siapkan Program Diet: Tak Perlu Sedot Lemak
Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfaribi/Detikcom
Bandung - Tim dokter dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) masih meneliti penyebab obesitas ekstrem pada Arya Permana (10). Sejauh ini upaya menurunkan berat badan cukup dengan program diet. Dokter belum berencana melakukan operasi.

Menurut Julistio TB Djais selaku Ketua Tim Dokter Penanganan Arya, bobot tubuh Arya yang mencapai 188 kilogram berisi tumpukan lemak yang berada di bawah kulit.

Meski begitu, saat disinggung apakah Arya akan disedot lemak, Julistio meyakinkan tidak akan dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sedot lemak itu bukan untuk penanganan obesitas. Sedot lemak itu biasanya lebih ke arah estetika. Misalnya untuk orang yang tubuhnya biasa tapi bagian pahanya kegedean bisa disedot. Kalau untuk obesitas ini tidak," kata Julistio, Rabu (13/7/2016).

Jenis operasi yang memungkinkan dilakukan kepada Arya, lanjut Julistio, yakni operasi untuk mengecilkan lambung. Dengan lambung yang kecil, bisa menekan asupan makanan ke dalam tubuhnya.

"Operasi memperkecil lambung ini biasanya dilakukan terhadap pasien yang sangat obese. Untuk kasus ini, mungkin suatu hari bisa dilakukan," ucapnya.

Meski begitu, saat ini Arya belum membutuhkan operasi pengecilan lambung. Tim dokter, kata Julistio, masih berupaya dengan menurunkan kalori yang masuk ke tubuh Arya dan memperbanyak gerak.

"Mudah-mudahan saja kita sukses sehingga tidak perlu operasi. Kalau bisa turun banyak dengan mengatur pola makan mengapa harus operasi," tandasnya.

Arya adalah pasien obesitas ekstrem asal Karawang. Dirawat di RSHS sejak Senin kemarin. Bobot tubuhnya yang mencapai 188 kilogram dinilai akan membahayakan kesehatannya. Apalagi Arya kerap sesak napas saat berjalan. Meski begitu diagnosa awal menyebutkan Arya tidak memiliki penyakit berbahaya. (avi/try)


Berita Terkait