"Boleh bikin manufacturing tapi secara nasional tetap akan kalah dengan Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi) yang sudah ribuan hektare. Indonesia pun jika bersaing dengan manufaktur juga tidak akan menang, karena sekarang hampir semua dikuasai ciptaan China. Hati-hati Pak Anas, for sure! Anda bisa target membangun industri tapi Anda harus berhitung dulu," tegas Arief Yahya ketika memberi paparan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Jumat (8/7/2016).
Arief menyarankan agar Anas mengutamakan pembangunan ekonomi yang sesuai dengan kondisi geografis Banyuwangi. Menurutnya, sumbangan PDB dan devisa sektor pariwisata kini lebih populer di Indonesia setelah minyak, gas bumi, batu bara dan CPO.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Pariwisata Arief Yahya (ketiga dari kiri) bersama Bupati Abdullah Azwar Anas (kedua dari kiri) di Pendopo Banyuwangi, Jumat (8/7/2016). Foto: Putri Akmal/detikcom |
Dorongan agar Banyuwangi lebih fokus untuk membangun sektor pariwisata juga disokong dengan tingkat pertumbuhan wisatawan di Banyuwangi yang melesat. Sektor pertumbuhan wisatawan mancanegara meningkat 50 persen, tertinggi di Indonesia.
Sementara pertumbuhan wisatawan domestik menyumbang angka 30 persen dari nusantara. 26.8 bekerja di sektor pariwisata.
"Tapi point 1, 2 dan 3 (minyak dan gas bumi, batu bara dan CPO) turun hingga 30 persen. Sementara yang satu-satunya target di 2019 ialah pariwisata menjadi penghasil devisa terbesar di Indonesia. Industri pariwisata lebih tinggi dari manufaktur dan pertambangan, ada industri kerakyataan yang impactnya menyentuh langsung masyarakat. Pak Anas, Anda bisa menang di pariwisata dan ekonomi kreatif, definitely, for sure!," papar alumni ITB tersebut.
(fdn/fdn)












































Menteri Pariwisata Arief Yahya (ketiga dari kiri) bersama Bupati Abdullah Azwar Anas (kedua dari kiri) di Pendopo Banyuwangi, Jumat (8/7/2016). Foto: Putri Akmal/detikcom