DetikNews
Rabu 22 Juni 2016, 14:17 WIB

Sistem Ganjil-Genap Dinilai Punya Banyak Kelemahan, Ini Kata Kapolda Metro

Mei Amelia R - detikNews
Sistem Ganjil-Genap Dinilai Punya Banyak Kelemahan, Ini Kata Kapolda Metro Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Moechgiyarto (Foto: Lamhot Aritonang/detikFoto)
Jakarta - Pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap yang akan segera diterapkan pada akhir Agustus nanti masih memiliki banyak kelemahan. Selain pengawasan yang manual, kebijakan ini juga rawan menimbulkan pidana baru seperti pemalsuan pelat nomor.

Meski begitu, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Moechgiyarto mengatakan, pihaknya punya cara-cara untuk mengantisipasi hal itu.

"Enggak akan sulit. Nanti kan akan bisa melihat, secara kasat mata. Oh berarti ini ada, kita bisa gunakan foto jepret kalau jarak jauh. Kalau dekat bisa kita hentikan langsung ditilang. Mudah menurut saya," ujar Moechgiyarto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (22/6/2016).

Kelemahan lainnya yakni ketika pemilik kendaraan menggunakan pelat nomor kendaraan bodong untuk menghindari sistem ganjil-genap ini. Namun, lanjut Miechgiyarto, petugas di lapangan bakal mengetahui mana pelat asli dan mana pelat palsu.

"Kan standar pelat dari kita sudah ada pelatnya. Dari awal kita pelat yang tidak standar saja sudah ketahuan, jadi kalau dia mau buat pelat asal-asalan ketahuan bisa kita tindak," ungkapnya.

Selain itu, sistem ganjil-genap ini nampaknya tidak berpengaruh bagi orang kaya yang memiliki mobil lebih dari satu. Akan tetapi hal ini menurutnya lagi bisa diatasi dengan penerapan pajak progresif bagi pemilik kendaraan lebih dari satu.

"Kalau mobilnya lebih dari satu berarti pajaknya banyak. Pemasukan dari pajak itu pemasukan pemerintah jadi banyak juga. Pajak progresif, menahan orang untuk konsumtif tadi membeli banyak kendaraan, itu kan sudah ada upaya yang kita lakukan, bahkan pajak progresif sekarang ini tidak didasarkan kepada nama tetapi didasarkan kepada alamat itu luar biasa," bebernya.

Menurutnya, upaya pembatasan kendaraan dengan sistem ganjil-genap tidak akan sia-sia. "Lho endak. Kan tidak seluruhnya melakukan kayak begitu. Daripada tidak sama sekali, tidak kita atur, akan jadi crowded. Nah sekarang kita atur kira-kira ada perbaikan tidak. Kalau saya pikir akan ada perbaikan," pungkasnya.
(mei/hri)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed