Ini Cerita Temuan Fosil Gigi Pertama Manusia Purba dari Mata Menge

Erna Mardiana - detikNews
Kamis, 09 Jun 2016 16:42 WIB
Foto: istimewa
Bandung - "Saya lebih dari 20 tahun mencari enggak ketemu, sementara Mika baru bergabung dua tahun, dia yang menemukan fosil itu," seloroh Geolog dan ahli Palaentology dari Australia Gert van den Bergh dalam seminar temuan fosil manusia purba di Museum Geologi, Rabu malam (8/6/2016).

Mika yang disebutnya merupakan mahasiswa S3 University of Wollongong Australia. Mika Rizki Puspaningrum (30), orang yang pertama melihat fosil gigi di Mata Menge, Cekungan Soa, NTT.

Temuan fosil gigi terjadi pada Oktober 2014. "Itu dua minggu berakhirnya eskavasi. Kita udah capek. Itu pagi-pagi jam 10. Seperti biasa, saya berkeliling ke lokasi penggalian. Ada dua trans yang digali saat itu," terang Mika yang saat peristiwa itu baru bergabung satu bulan.

Tiba di lokasi penggalian yang dilakukan Andreas Boko, warga setempat yang diperbantukan untuk eskavasi, Mika seperti biasa mencatat apa saja yang telah ditemukan.

"Saya lihat ada fosil gigi, itu sudah lepas dari sedimennya. Loh ini yang kita cari selama ini. Lalu saya masukkan fosil gigi itu ke tas plastik yang biasa saya bawa, terus memfotonya dan mencatat semuanya," ujar Mika yang mengaku senang menjadi orang yang pertama menemukannya. Mika juga mengaku eskavasi ini pertama yang ia ikuti.

Menurut Gert van den Bergh, gigi yang pertama ditemukan itu adalah gigi geraham bawah bagian kanan. Gara-gara temuan ini, eskavasi diperpanjang lagi 10 hari atau hampir sebulan.

Ditemukan enam buah gigi di antaranya geraham (molar), gigi kacil (incisor), gigi taring (canine) dan pecahan rahang bawah. "Awalnya kita mengira itu gigi anak kecil, karena ukurannya sangat kecil. Namun setelah diteliti, itu gigi orang dewasa. Pecahan rahang bawahnya juga kecil," tutur Gert van den Bergh.

Selain fosil gigi, di sana juga ditemukan fosil binatang, seperti gajah, tikus, dan buaya.

Gert bergabung bersama Prof Fachroel Aziz saat dia masih mahasiswa University of Wollongong pada Tahun 1991. "Itu belum formal, baru tahun 1992-1994 penelitian formal, Badan Geologi bekerjasama dengan University of Wollongong meneliti soal ini," kata Fachroel.

Fachroel mengaku sangat senang dengan adanya temuan ini. Sebab dengan temuan ini bisa mengubah persepsi terhadap manusia purba. "Kalau dilihat pulau-pulau di sana tidak menyatu. Untuk mencapai Flores itu tidak gampang. Untuk ke sana harus ada alat, minimal rakit. Dan membuat rakit perlu organisasi. Jadi ini bisa mengubah persepsi bahwa manusia purba 700 ribu tahun lalu bisa berorganisasi," tandasnya. (ern/dra)