"Di kami penginput datanya ada empat orang, ahli IT semua," kata Kepala SMAN 3 Semarang, Bambang Nianto, di kantornya, Jl Pemuda, Kamis (12/5/2016).
Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Emmy Irianingsih menambahkan SKS yang diterapkan di SMAN 3 Semarang merupakan pola discontinue yang artinya mata pelajaran disetting on atau off pada semester tertentu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"SKS sudah sejak 2012 dengan pola discontinue, artinya mata pelajaran disetting on off. Nah di sistemnya PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa) baru sekarang ini memfasilitasi khusus untuk sistem SKS yang ini," kata Emmy kepada detikcom.
Ia menjelaskan pola SKS tersebut yaitu dibuat empat seri yang dikembangkan untuk 5 atau 6 semester sehingga mata pelajarannya dibagi. Jika dalam satu semester tidak ada mata pelajaran misalnya Kimia, maka statusnya off.
"Bukan nilainya yang kurang, memang mata pelajarannya tidak muncul karena off, jadi munculunya misal di semester 1, 3, 4, dan 6," terang Emmy.
Ada variabel untuk sekolahan menentukan pelajaran yang on atau off di tiap semesternya, antara lain jumlah jam ajar guru, mata pelajaran tiap semester, dan beban belajar tiap semester.
Baca juga: Ini Kata Panitia SNMPTN 2016 Soal Ada Tidaknya Peringatan di Formulir PDSS
"Pengaturan (mata pelajaran) ada variabel yang harus diperhatikan. Yang menentukan sekolahan," tegasnya.
Ketika ditanya terkait keluhan siswa tentang nilai yang tidak tercantum untuk SNMPTN, Emmy enggan menjawab. Menurutnya nilai yang kosong itu adalah mata pelajaran yang statusnya off.
"Yang off itu (yang kosong), karena memang tidak ditempuh misal kimia di semester 3. Karena off mata pelajaran tidak muncul di tiap semester," pungkas Emmy.
Pihak sekolah tidak berkenan disalahkan terkait "musibah" itu. Maka pihak orang tua siswa, sekolah, dan Disdik Kota Semarang membuat tim untuk melakukan investigasi untuk mengungkapkan faktor apa yang menyebabkan ratusan siswa itu gagal SNMPTN. (alg/try)











































