Kantor yang biasanya tertutup itu mendadak dibanjiri pengunjung yang berjumlah ribuan. Passport DC adalah gelaran rutin tiap tahun di mana kantor-kantor kedutaan besar di Washington DC membuka pintu untuk publik.
Di bawah koordinasi Cultural Tourism DC, mereka menampilkan sisi budaya khas negara masing-masing untuk dipertontonkan kepada publik di ibu kota. Untuk tahun ini Passport DC digelar hari Sabtu (7/5/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Shohib Masykur/detikcom |
Ini kali kedelapan KBRI berpartisipasi pada event tersebut. Seperti negara lain, Indonesia pun menampilkan berbagai aspek budayanya, seperti tarian, pencak silat, gamelan, dangdut, angklung, batik, kerajinan, dan masakan tradisional. Semua itu bertujuan untuk mempromosikan Indonesia kepada publik Amerika.
"Ini adalah bagian dari diplomasi publik. Kita mengenalkan Indonesia kepada publik AS dan memperkuat hubungan people-to-people. Salah satu yang kita tonjolkan adalah pluralisme dan keragaman Indonesia," kata Koordinator Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya KBRI Washington DC, Siuaji Raja kepada detikcom.
Sebuah booth bagi anak-anak untuk melukis topeng terletak di salah satu sudut ruangan. Tiga buah food truck milik orang Indonesia yang menjual masakan khas Indonesia berjejer di halaman dan ramai diserbu pengunjung.
Food truck, semacam warung berjalan yang menggunakan truk sebagai kiosnya, memang populer di DC. Mereka banyak dijumpai di pinggir jalan. Pertumbuhan jumlah food truck Indonesia di Washington DC terbilang cukup pesat.
Sebelumnya jika bicara tentang food truck Indonesia di DC, orang hanya merujuk pada Sate Sarinah. (Baca juga: Hilangnya Truk Sate Kesayangan Warga Indonesia di Washington DC). Namun sekarang sudah ada food truck yang lain, yaitu Java Cove dan Nom Nom Gourmet.
Berhubung tidak ada restoran Indonesia di DC, food truck bisa menjadi solusi untuk mengobati kerinduan kepada masakan Indonesia.
Selain food truck, ada juga chef William Wongso yang menyajikan masakan kepada pengunjung Passport DC di KBRI. Kemudian ada deretan booth berisi kerajinan dan batik buatan Indonesia.
Halaman kantor yang biasanya sepi orang kali itu penuh berjejal-jejal. Para pengunjung bisa menikmati makanan seraya mendengarkan lantunan musik Indonesia dan pulang membawa cerita tentang keunikan budaya Indonesia.
Foto: Shohib Masykur/detikcom |
Lebih dari 40 kedutaan besar berpartisipasi di acara Passport DC. Lantaran kebanyakan kantor mereka terletak di kawasan Massachussetts Avenue, konsentrasi pengunjung pun terjadi di kawasan tersebut. Ribuan orang hilir mudik berpindah dari satu kantor kedutaan besar ke kedutaan besar lainnya.
Dari sekian banyak negara, Indonesia termasuk yang paling favorit dan paling banyak dikunjungi. Antrean menjelang pintu masuk mencapai sekitar 70 meter. Tahun ini jumlah pengunjung KBRI mencapai rekor 5.400 orang, naik signifikan dibanding tahun lalu yang sebanyak 3.800 orang.
Foto: Shohib Masykur/detikcom |
(Baca juga: Kutukan Berlian, Misteri Penampakan dan Mitos Emas di KBRI Washington DC)
Gedung KBRI memang memiliki daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan gedung kedutaan besar yang lain. Selain bentuknya yang antik, gedung ini juga menyimpan cerita misteri yang banyak diketahui orang.
(Baca juga: Gedung KBRI Washington DC, Cagar Budaya dan Rumah Termahal di Ibu Kota) (fdn/fdn)












































Foto: Shohib Masykur/detikcom
Foto: Shohib Masykur/detikcom
Foto: Shohib Masykur/detikcom