Kemdikbud Berikan Hadiah Penghargaan Sertifikat dan Uang Bagi Penemu Fosil

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Jumat, 29 Apr 2016 08:56 WIB
Foto: Andhika Akbaransyah
Jakarta - Seorang petani bernama Setu Wiryorejo menemukan fosil atap tengkorak dari manusia purba tertua di Indonesia (Homo Erectus Arkaik) di sungai Bojong, anak Bengawan Solo pada 5 Februari lalu. Penemuan fosil penting yang menjelaskan evolusi manusia ini menjadi penting bagi cabang ilmu pengetahuan arkeologi.

Untuk itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) selalu memberikan penghargaan bagi para penemunya. Seperti apa bentuk penghargaannya?

"Kita berikan imbalan kepada mereka yang menemukan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Imbalannya itu berupa sertifikat penghargaan dan uang," ujar Direktur Cagar Budaya dan Permuseuman Kemdikbud Harry Widianto saat dihubungi, Kamis (28/4/2016).

Penghargaan dan imbalan semacam itu diberikan oleh pihak kementerian paling lambat dua pekan setelah dilaporkan ke Balai Pelestarian Situs Manusia Purba di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Tim dari Balai kemudian melakukan identifikasi dan temuan ini diyakini sebagai atap tengkorak dari manusia purba Homo Erectus Arkaik, golongan manusia purba tertua yang pernah tercatat di Sangiran.

Temuan spesimen yang paling sedikit berasal dari Homo Erectus Arkaik. Jumlahnya sekarang diperkirakan hanya 20 spesimen. Itu terdiri dari atap tengkorak, rahang bawah dan beberapa spesimen rahang atas.

Baca Juga: Temuan Fosil Manusia Purba Sejak Zaman Belanda di Sangiran

Setu hanya menemukan bagian fosil atap tengkorak saja. Nah, Harry menyebut nominal uang yang diberikan untuk setiap penemuan berbeda.

"Fosil yang kemarin ketemu (Homo Erectus Arkaik) saya berencana kasih Rp 15 juta. Tapi untuk setiap penemuan ada tim kami yang menilai berapa cost imbalannya, jadi tidak sama," terangnya.

Perbedaan itu, kata Harry, didasarkan pada kondisi fisik fosil itu sendiri. Semakin utuh kondisinya maka semakin besar pula kemungkinan imbalan yang didapat. Kemudian juga tergantung pada jenis fosil yang ditemukan.

Baca Juga: Fosil Gading Gajah Purba Stegodon dari Grobogan

"Dulu ada penemuan fosil kepala gajah, kondisinya masih utuh dan bagus maka kita berikan Rp 10 juta sebagai imbalannya. Namun di saat yang bersamaan, ada penemuan serupa juga tapi dalam kondisi terpecah atau retak maka kami berikan Rp 400 ribu," kata Harry.

"Kalau tengkorak dan tulang paha gitu, kita berikan (imbalannya) lain," imbuh dia.

Meski demikian, Harry menyebut pihaknya selalu memberi pengertian mengenai perdaan dari nominal imbalan uang yang diberikan kepada masyarakat. Sehingga mereka dapat memahaminya.

"Kita memberikan pemahaman kepada 210 ribu masyarakat tentang berbagai arti penemuan penting fosil sehingga mereka paham kalau ini penting. Mereka ngerti kok," pungkasnya. (aws/bag)