Terbaru, Ahok memutuskan turun ke lapangan untuk mengecek titik-titik banjir di Jakarta. Ia blusukan mengecek pompa air dan pintu air antara lain di kawasan Gunung Sahari, Ancol dan Pademangan.
Aksi blusukan awalnya dilakukan Ahok karena kurang puas dengan laporan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi yang menyatakan banjir kemarin disebabkan oleh air laut pasang. Tidak hanya itu, banjir juga tidak terpantau semua di CCTV.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan segala temuan permasalahan di lapangan itulah, Ahok makin percaya dengan manfaat blusukan yang gencar dilakukan Presiden Jokowi. "Ya benar Pak Jokowi lah, kita mesti ke lapangan, blusukan. Dari CCTV enggak bisa baca," kata Ahok.
Nasihat untuk blusukan memang pernah disampaikan Jokowi kepada Ahok. Jokowi berpesan agar Ahok meluangkan waktu untukΒ turun ke lapangan mengunjungi masyarakat, terutama daerah yang belum dipasang CCTV.
Selama ini, bukannya Ahok tidak pernah blusukan. Ia punya gaya blusukan tersendiri dalam mengurus Jakarta. AhokΒ memantau segala persolan dan kondisi Jakarta dari balik meja dengan memanfaatkan teknologi canggih. Cara blusukannya antara lain menyebar CCTV, memanfaat teknologi di android dengan aplikasi yang disebut 'safetipin' itu.
Berikut 3 kisah Ahok:
1. Benar Jokowi, Kita Harus Blusukan
|
Foto: Ahok saat blusukan (Pemprov DKI Jakarta)
|
"Ngecek pompa sama pintu air. Di Ancol sama di Gunung Sahari," kata Ahok sesampainya di Balai Kota, Jumat (22/4/21017).
Dia penasaran karena tidak puas dengan laporan Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi. yang menyatakan banjir di Pademangan karena air laut melimpas. Ahok juga kurang puas dengan pantauan CCTV. "Ya benar Pak Jokowi lah, kita mesti ke lapangan, blusukan. Dari CCTV enggak bisa baca," kata Ahok.
Sekalian, dia menanyai petugas penjaga rumah pompa di Ancol. Dia juga sempat melihat kawasan seputar Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Kondisi air di sana masih aman. "Terus tadi saya lihat Istiqlal, saya putarin tadi. Di Juanda airnya penuh enggak? Enggak juga," kata Ahok.
2. Pompa Air Mati
|
Foto: Ari Saputra
|
"Awalnya saya heran, semua Jakarta Utara enggak tenggelam, kecuali Pademangan (Jakarta Utara). Alasannya air laut melimpas," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (22/4/2016).
Ahok tak percaya dengan keterangan Wali Kota Jakarta Utara Rustam Effendi yang menyatakan banjir kemarin disebabkan oleh air laut pasang. Tadi pagi, Ahok mengecek ke rumah pompa di Ancol dan Gunung Sahari.
"Makanya tadi saya cek," kata Ahok.
Akhirnya Ahok menerima alasan ini, bahwa pompa air mati saat kemarin dan menyebabkan banjir di Pademangan Jakarta Utara, Gunung Sahari Jakarta Pusat, dan wilayah lainnya. Pompa air yang mati ada satu, sehingga hanya ada dua yang berfungsi.
3. Curiga Ada 'Kompatriot'
|
Foto: Ari Saputra
|
Awal mula Ahok menuding Rustam sebagai kompatriot Yusril, yakni ketika Ahok mengemukakan ide agar saluran air dari Ancol diteruskan sehingga menyambung sampai Pasar Ikan. Dengan demikian, diharapkan kawasan pintu air Ancol tak bakal banjir.
"Aduh, ini Pak Walikota ini saya selalu bilang begini Pak Wali, Pak Wali kalau saya suruh usir orang itu wah ngeyelnya ngeles," kata Ahok kesal kepada Rustam dalam rapat kemarin.
"Jangan-jangan satu pihak sama Yusril ini, supaya...," tuding Ahok namun tak melanjutkan kalimatnya.
Seisi ruangan justru tertawa mendengar ucapan Ahok itu. Padahal rapat itu diliputi ketegangan karena Ahok berbicara dengan nada orang marah. Rustam terlihat menggerakkan tangannya ke arah Ahok, gestur menolak tudingan Ahok tadi.
Namun, Ahok tak akan memecat Rustam Effendi karena kinerjanya masih bagus. "Enggak lah (memecat Rustam). Kinerjanya oke lah, oke," kata Ahok.
Halaman 2 dari 4











































