Bebaskan 10 WNI yang Disandera, Pemerintah RI Terus Komunikasi dengan Filipina

Yudhistira Amran Saleh - detikNews
Kamis, 31 Mar 2016 11:48 WIB
Menlu Retno Marsudi/Foto: Ari Saputra-detikcom
Jakarta - Pemerintah Indonesia terus berkomunikasi dengan Pemerintah Filipina untuk membebaskan 10 WNI yang disandera oleh kelompok Abu Sayyaf. Pemerintah RI mengupayakan opsi terbaik untuk melepaskan para ABK.

"Upaya penyelamatan 10 ABK WNI terus dilakukan. Dalam tiga hari terakhir, koordinasi dan komunikasi terakhir terus diaktifkan," kata Menlu Retno LP Marsudi di Ruang Palapa, Kemlu, Jalan Pejambon No 6, Jakpus, Kamis (31/3/2016)

Retno menambahkan hingga pukul 08.13 WIB tadi pagi, dirinya masih terus berkomunikasi dengan Menlu Filipina. "Secara pararel, kolega saya juga lakukan komunikasi dengan para counterpartnya," lanjutnya.

Saat ini Kemlu terus melakukan penjajakan dalam berbagai opsi dalam pembebasan para sandera. Keselamatan ABK tegas Retno menjadi prioritas dalam upaya pembebasan.

"Informasi mengenai pergerakan, posisi dan kondisi para sandera dari waktu ke waktu kita peroleh. Kemlu telah lakukan komunikasi dengan pihak keluarga ABK," tutur Retno.

Pemerintah RI juga menyatakan dukungan Filipina sangat penting untuk membantu pembebasan sandera. Indonesia sangat menghargai kerja sama dan dukungan yang baik dari Pemerintah Filipina.

Diberitakan sebelumnya, di tengah tawaran militer dan polisi Indonesia untuk membantu upaya penyelamatan 10 sandera oleh Abu Sayyaf, militer Filipina atau disebut the Armed Forces of the Philippines (AFP) menyatakan tidak memerlukan bantuan tersebut.

"Dalam konstitusi, kami tidak diizinkan kekuatan militer (negara lain) di sini tanpa perjanjian," ucap juru bicara AFP Kolonel Restituto Padilla, seperti dilansir inquirer.net, Kamis (31/3).

Kelompok Abu Sayyaf memberikan ultimatum pembayaran tebusan bagi 10 WNI yang disandera yang harus dibayarkan paling telat pada 8 April 2016.

Para penyandera meminta tebusan 50 juta peso, atau sekitar Rp 15 miliar. Apabila tidak dipenuhi maka sandera akan dibunuh.

10 WNI ini adalah awak kapal tug boat Brahma 12 yang menarik kapal tongkang Anand 12 yang berisi 7.000 ton batubara. Tugboat dilepaskan tetapi kapal Anand 12 dan 10 WNI disandera. (yds/fdn)