Dalam waktu dekat TPA tersebut akan diubah dan dijadikan salah satu destinasi wisata namun tetap sesuai fungsinya sebagai lokasi pembuangan akhir sampah di Kabupaten Purwakarta.
Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengungkapkan, nantinya nama TPA Cikolotok akan diganti lantaran singkatan 'pembuangan akhir' kurang memiliki estetika dan kurang manusiawi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesuai dengan namanya, Dedi pun akan mengubah wajah TPA menjadi kawasan perkampungan yang layak dihuni bahkan dikunjungi sebagai lokasi pariwisata pendidikan terkait pengolahan sampah.
Nantinya, kata Dedi, sekitar 40 rumah warga akan diseragamkan menyerupai bangunan rumah adat. Selain itu terdapat warung sate maranggi, taman, juga pohon besar yang akan berjajar di jalan menuju lokasi Kampung Sampah. Tak lupa warga yang bermukim di tempat itu pun akan diberikan pelatihan kepariwisataan.
"Jadi kesan sampah kotor dan bau itu kita akan ubah agar orang mau berkunjung dengan nyaman. Apalagi nanti pelajar bisa berkunjung dan belajar bagaimana pengelolaan gas dari sampah, kompos, dan pembuatan pupuk organik," katanya.
Dedi mengungkapkan masyarakat tak perlu khawatir dengan bau yang berasal dari pembuangan sampah, lantaran selama ini TPA Cikolotok dikenal dengan tempat pembuangan sampah yang tak berbau juga minim lalat.
"Kita bau itu sudah tidak ada karena pengelolaan sampah sudah bagus. Sekarang sudah tidak bau dan tidak ada lalat," ucapnya.
Disinggung soal anggaran yang disiapkan, Dedi mengatakan, saat ini pihaknya telah menyiapkan anggaran sekira Rp 10 miliar yang nantinya akan dipergunakan untuk penataan rumah warga, pembuatan bangunan pendukung, dan pelebaran juga perbaikan jalan.
Dari pantauan detikcom pada Selasa 29 Maret kemarin di TPA Cikolotok, bau busuk atau bau sampah memang tak begitu mencolok, berbeda dengan TPA pada umumnya. Bau hanya tercium sesekali saat truk pengangkut sampah melintas.
Sementara akses jalan menuju TPA pun cukup dilalui oleh dua truk besar secara bersamaan, jalan pun telah rapi namun di beberapa titik terdapat lubang yang disebabkan oleh aktifitas kendaraan atau truk pengangkut sampah.
Untuk menuju tempat ini, kendaraan akan melalui pemukiman warga Desa Margasari yang cukup padat. Namun sekira 2-3 KM menjelang gerbang TPA kendaraan akan melintasi hamparan sawah yang hijau dengan lukisan alam berupa perbukitan yang akan memanjakan mata. (aan/aan)











































