Anas Disebut Ikut Bantu Nazar Urus Pembelian Rumah Belasan Miliar

Ferdinan - detikNews
Rabu, 16 Mar 2016 18:17 WIB
Muhammad Nazaruddin (Foto: Grandyos Zafna/detikFoto)
Jakarta - Muhammad Nazaruddin melibatkan sejumlah orang menjadi perantara pembelian rumah yang harganya miliaran rupiah. Kolega Nazar, Anas Urbaningrum ikut disebut terlibat dalam proses awal pembelian rumah.

Hal ini disampaikan Aswin Manwatara dalam sidang lanjutan Nazar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jl Bungur Besar, Jakarta Pusat, Rabu (16/3/2016). Aswin merupakan ahli waris dari Abdul Karim yang memiliki rumah dan tanah seluas 4.944 m2 di Jl Duren Tiga VIII/65 RT 006 RW 03, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan.

"Pertama yang datang melalui broker, Anas Urbaningrum. Kemudian sepakat dipertemukan Pak Nazaruddin," ujar Aswin saat bersaksi untuk Nazar.

Aswin selanjutnya dipertemukan dengan Nazaruddin untuk mengurus pembelian rumah di Blok D.I Kohir Nomor C.1503 tersebut. "Kemudian disuruh Anas untuk dipertemukan dengan Nazar. Kemudian selanjutnya diurus Nazaruddin," sambungnya.

Sebelum dipertemukan dengan Nazar, Aswin sebelumnya mengira calon pembeli rumah waris tersebut adalah Anas. Namun Anas saat bertemu dirinya menyebut Nazar yang akan mengurus proses lanjutan. "Ya untuk selanjutnya diurus Pak Nazar," tutur Aswin menirukan pernyataan Anas kala itu.

Rumah tersebut ditawarkan Aswin seharga Rp 15 miliar. Namun akhirnya disepakati jual beli seharga Rp 13 miliar. Pihak Nazar memberikan tanda jadi pembelian sebesar Rp 200 juta.

"Saya disuruh ke kasir di kantor Pak Nazar," kata Aswin menerangkan proses pembayaran pembelian rumah. Pembelian dilakukan pada Desember 2009 dan dilunasi pembayarannya pada tahun 2010.

Tapi dalam akta jual beli (AJB), pemilik rumah tersebut diatasnamakan orang lain yang tidak diingat identitasnya oleh Aswin. Sedangkan Jaksa KPK menyebut kepemilikan rumah diatasnamakan Muhajidin Nur Hasim.

Dalam perjalanannya, Nazar menurut Jaksa KPK membuat akta pembatalan jual beli melalui Muhammad Nasir yang dibuat notaris bernama Widyatmoko.

Namun adanya akta pembatalan ini justru tidak diketahui Aswin. Akta tersebut diperlihatkan kepada Aswin saat diperiksa penyidik KPK. Jaksa KPK dalam surat dakwaannya memang menduga pembuatan akta pembatalan tersebut untuk menutupi adanya pembelian rumah.

"Ada pembatalan dengan tandatangan dari semua ahli waris," kata Aswin yang mengaku tidak mengetahui pihak yang membuat akta pembatalan. (fdn/hri)