DetikNews
Senin 14 Maret 2016, 20:05 WIB

SBY: Di Era Saya Para Menteri Kompak

Elza Astari Retaduari - detikNews
SBY: Di Era Saya Para Menteri Kompak Foto: Elza/detikcom
Boyolali - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (RI) bicara tentang menteri di masa pemerintahannya. Di masa dia, menteri kompak tidak ada yang gaduh di ranah publik.

"Harapan rakyat juga agar menyampaikan koordinasi, sinergi, dan hubungan antar kementerian itu baik, klop. Zaman saya memang sudah ada tantangan tata koordinasi tapi segera saya selesaikan," ungkap SBY.

Hal tersebut disampaikannya saat melakukan audiensi dengan sejumlah kelompok masyarakat saat melintas di Boyolali, Senin (14/3/2016). Hadir sejumlah fungsionaris Partai Demokrat (PD) yang sedang mengikuti Tour de Java, seperti dua menteri di era SBY yakni Syarief Hasan dan Roy Suryo.

"Pak Syarief Hasan pernah menjadi menteri, Pak Roy Suryo pernah menjadi menteri. (Kalau ada masalah) tidak sampai berantem keluar, toh belum saya marahi saja nanti. Segera selesaikan, segera atasi," ujar SBY.

Pernyataan Ketum PD itu menanggapi keluhan seorang kepala desa yang mewakili petani bernama Joko. Selain merasa keberatan karena saat ini harga gabah yang anjlok menurun, serta permasalahan lain yang dirasakan kelompok tani. Termasuk soal regulasi yang akhirnya berdampak pada kesejahteraan rakyat.

"Saat ini terjadi kegaduhan yang buat masyarakat bingung. Seperti kartu pintar, kartu tani yang nanti kami selaku kades yang melaksanakan kebijakan yang lebih tinggi, karena apabila itu dikeluarkan, nanti bisa jadi kerancuan," tutur Joko kepada SBY.

Kerancuan yang dimaksud Joko adalah bahwa kartu tani baru bisa digunakan setahun kemudian setelah diberikan. Itu jadi masalah apabila tanah atau lahan milik petani kemudian dijual dalam jangka waktu satu tahun.

"Sulitnya mendapatkan pupuk dan harga gabah yang tidak laku dipesaran. Petani itu mati segan hidup pun tak mau. Kami perlu dapat jaminan kemudahan mendapat, dan jaminan gabah dijual tinggi. Kemudian sangat berat bagi masyarakat kenaikan tarif listrik," kata Joko.

"Program bapak SBY yang sangat dirasakan sekali yaitu PNPM. Masyarakat masih merindukan program itu. Kami kecewa kalau PNPM tidak lagi ada. masyarakat merindukan pemimpin yang bisa mengatakan A dan bisa dilaksanakan sampai bawah A. Kewibawaan seorang pemimpin," sambungnya.

SBY pun menyebut bahwa kesejahteraan para petani sangat penting. Namun itu harus sejalan dengan harga beras yang terjangkau bagi masyarakat. Untuk itu pemerintah dimintanya agar mencari solusi bagaimana kondisi ideal itu dapat tercipta.

"Pemerintah mulai dari presiden, menteri, sampai tingkat bawah harus punya program dan kebijakan yang pro rakyat. Tidak boleh petani menjual gabah harganya jatuh, harus dipaskan dengan kebijakan satu sama lain. Bulog, kementan, kemendag jg demikian. Saya juga dengar soal ini dari kabupaten lain. Akan kita teruskan ke Pak Jokowi," jelas Ketum PD itu.

Pada kesempatan itu, SBY juga mendengarkan aspirasi dari perwakilan guru dengan status pegawai tidak tetap. Ini terkait dengan perbedaan yang begitu jauh mengenai status dan kesejahteraan antara pegawai tidak tetap dan guru honorer dengan guru PNS.

"Saya tidak lagi jadi presiden, kalau masih presiden malam nanti saya langsung panggil rapat menteri-menteri terkait ada masalah seperti ini lalu solusi gimana. Ini masalah penting. Akan kami salurkan dan rekomendasikan. Tentu disesuaikan dengan kebijakan pak Jokowi maupun kemampuan negara," terang SBY.

Meski menyatakan akan menyalurkan aspirasi para guru lewat Fraksi PD di Komisi X, SBY menyebut bahwa guru juga harus memahami bahwa negara juga memiliki batas kemampuan. Sebab anggaran yang dimiliki harus dibagi-bagi untuk banyak pos.

"Perlu dipahami ada kebatasan negara untuk sekaligus membiaya semua. Oleh karena  itu saya dulu waktu presiden saya katakan ke gubernur, bupati, walikota, kalau mau angkat guru honorer atau guru tidak tetap harus disinkronkan dan koordinasikan," sebut jenderal purnawirawan itu.

"Jangan sampai mengangkat guru tidak tetap dan honorer, kesejahteraan rendah sekali. Sekali berani mengangkat guru tidak tetap dan honorer sudah dipastikan kemampuannya berapa. Guru seingat saya ada yang pensiun 200 ribu (per tahun) jadi masih ada peluang untuk mengangkat PNS tentu dengan tahapan tertentu," imbuh SBY.

Suami dari Ani Yudhoyono ini mengakui bahwa mengurus negara memang tidak mudah. Meski begitu, SBY bersama jajarannya selama 10 tahun terus mencari solusi agar bisa membenahi permasalahan-permasalahan meski belum semuanya terakomodir.

"Kami dulu juga menghadapi banyak masalah, tidak semuanya mudah. Sama. Tapi dengan semangat dulu, dengan kekompakkan menteri kita awasi one by one. Sebagian Alhamduillah sudah selesai, sebagian masih perlu waktu, harapan saya Pak Jokowi dengan pemerintahannya juga melakukan hal yang sama, ucapnya.

SBY juga berharap agar pemerintahan saat ini bisa menunjukkan kesolidannya sehingga tidak membuat resah masyarakat. Sebab belakangan memang banyak isu dari pemerintah yang membuat rakyat kebingungan dan meragu.

"Kami tahu bahwa kadang-kadang sulit tapi kalau kompak dan ditangani bener-bener pasti ada jalan keluarnya. Yang belum terwujud saya doakan barangkali bisa segera terwujud," doa SBY.

Sebelumnya diketahui Presiden Jokowi memberi pernyataan keras dan memperingati sejumlah menteri yang membuat gaduh pemerintahan. Ini merujuk pada dua menteri, yakni Menko Kemaritiman Rizal Ramli yang memposting tweet di akun twitternya dengan menyindir Menteri ESDM Sudirman Said.
(ear/dra)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed