Puluhan tunanetra dan penyandang disabilitas diajak Ahok masuk ke Djakarta Theater XXI, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (4/3/2016) sore.
Para tunanetra dituntun oleh koleganya, atau bahkan sebagian juga dituntun oleh rekan tunanetra yang lain. Ada pula para penyandang disabilitas lain, di antara mereka ada yang memakai kursi roda atau tongkat pembantu berjalan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Film 'Jingga' menceritakan tokoh siswa SMA bernama Jingga. Ayahnya tak bisa menerima kenyataan, sehingga memaksakan Jingga beraktivitas seperti biasa, padahal Jingga menderita low vision atau penglihatan terbatas.
"Lama-lama juga enggak bisa ngelihat," komentar penyandang tunanetra yang duduk di samping wartawan detikcom.
"Saya dulu juga low vision, umur 12 tahun terus enggak bisa melihat," kata pria berumur sekitar 55 tahun ini.
Tak lama, pria berambut putih dan berkacamata hitam ini dibimbing keluar bioskop oleh para penuntunnya. Dia harus segera meninggalkan lokasi karena keperluan lain.
Film ini memang menceritakan penyandang low vision yang akhirnya menjadi buta. Salah seorang penonton film ini juga menyandang low vision. Ani (51), perempuan berkerudung abu-abu menyatakan dirinya masih bisa melihat pendar-pendar obyek.
"Saya bisa melihat, tapi enggak mendetail. Kalau cuma sekadar melihat sih, bisa," kata Ani.
Film ini memang terasa banyak dialog dengan artikulasi jelas, para tunanetra menjadi tertawa lepas ketika dialog lucu, dan juga menjadi senyap saat dialog sedih.
Selain Ahok dan sekitar 70 penyandang disabilitas, hadir pula sejumlah Kepala Dinas, yakni Kepala Dinas Perhubungan Andri Yansyah, Kadis Perumahan dan Gedung Pemda Ika Lestari Aji, dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Tuty Kusumawati.
Suasana saat para tunanetra menonton film bersama Ahok (foto: Danu/detikcom) |












































Suasana saat para tunanetra menonton film bersama Ahok (foto: Danu/detikcom)