Mitos dan takhayul itu melahirkan tradisi khas menyambut gerhana di banyak kebudayaan di Indonesia. Uniknya, ternyata ada kemiripan tradisi tersebut mulai dari Jawa, Kalimantan, hingga Maluku Utara.
Berikut ini tradisi sambut gerhana yang mirip itu:
1. Gejog Lesung di Yogyakarta
|
Foto: Basith Subastian
|
Dalam mitologi setempat, gerhana terjadi karena matahari dimakan raksasa Kala Rahu atau Kala Rawu mencuri air suci yang bisa memberikan hidup abadi. Namun saat air baru sampai di tenggorokan, lehernya keburu dipenggal oleh Bhatara Wisnu.
Badan Kala jatuh ke bumi, sementara kepalanya masih melayang-layang dan membalas dendam dengan memakan matahari. Lesung padi mewakili tubuh Kala itu sehingga memukulinya dianggap bisa membuat kepala Kala segera memuntahkan matahari.
2. Garantung di Kalimantan Tengah
|
Foto: Ilustrasi oleh Zaki Alfarabi/detikcom
|
Menurut kepercayaan setempat, terjadinya gerhana matahari total adalah akibat perkelahian surya dengan bulan. Memukul garantung dan menciptakan kegaduhan dipercaya bisa melerai duel itu.
(Baca juga: Ada Tradisi Meramal Nasib dan Memukul Garantung di Kalteng Saat Gerhana Matahari)
3. Dolo-dolo di Ternate
|
Foto: Zaki Alfarabi
|
Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate Anas Konoras menjelaskan, tradisi ini berakar dari kepercayaan masyarakat di Maluku Utara bahwa gerhana terjadi akibat ditelannya matahari oleh seekor naga sehingga bumi menjadi gelap.
Dolo-dolo sebenarnya sarana mengumpulkan orang banyak untuk berbagai tujuan. Namun saat gerhana, dolo-dolo juga dijalankan. Selain membunyikan kentongan masyarakat juga memukul tifa dan peralatan dapur agar muncul suara bising demi menghentikan naga memakan matahari.
(Baca juga: Pemkot Ternate Angkat Tradisi Dolo-dolo Saat Gerhana Matahari Total 2016)
4. Pukul kaleng dan seng di Pulau Timor
|
Foto: Ilustrasi oleh Basith Subastian/detikcom
|
Suara nyaring yang ditimbulkan itu dipercaya bisa membuat gerhana cepat berlalu. Kebiasaan memukul seng dan kaleng ini juga dilakukan saat gerhana bulan.
5. Pukul tempurung kelapa di Jailolo
|
Foto: Zaki Alfarabi
|
Selain tempurung kelapa, masyarakat Jailolo juga keluar dari rumah saat gerhana. Mereka membawa barang-barang dari dalam rumah yang jika dipukul bisa menimbulkan suara bising seperti ember dan panci.
Pada 9 Maret 2016, masyarakat lokal dan turis akan beramai-ramai memukul tempurung kelapa saat gerhana matahari total melintasi daerah ini.
Halaman 2 dari 6











































