Tak ada panggung khusus, hanya sebuah microphone yang diletakkan di tengah geladak helikopter sebagai penanda bahwa di situ lah tempat jika seseorang mau unjuk kebolehan. Comic pertama yang maju adalah Letkol Pelaut Edmundo yang tak lain merupakan komandan KRI Makassar sendiri.
Di tengah perairan Laut Jawa di depan puluhan wartawan, Edmundo mulai melakukan stand up-nya. Berseragam loreng abu-abu, Edmundo mantap menatap penonton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diceritakan ada seorang anak Papua yang ikut ke Jakarta karena melihat abangnya sukses. Di Jakarta ia bertanya mengenai apapun. Salah satunya terkait Monas.
"Itu apa kakak?" ujar Edmundo menirukan suara orang yang disebut si adik.
"Oh itu Monas" jawabnya.
"Wah tingginya ya kakak. Ada emasnya, oh itu Freeport ya," timpal si adik. Penonton kemudian bertepuk tangan.
Cerita berikutnya Edmundo berkelakar mengenai sepasang kekasih. Kala itu si perempuan mengeluh kepada pasangannya.
"Sayang, kepala saya pusing," ujar si perempuan.
Lalu si laki-laki mencium kening si perempuan. Si perempuan bilang kalau dia akhirnya sembuh karena ciuman tersebut. Begitupun ketika si perempuan mengeluh sakit di mata dan bibir. Dicium, langsung sembuh.
"Eh tiba-tiba ada neneknya dateng, trus bilang 'nak, saya punya ambeien ini'. Dan si laki-laki pun bingung apa yang harus dilakukan," ujar Edmundo yang diikuti tawa hadirin.
"Hmm.. cerita lain apa ya. Haha. Ternyata lebih enak jadi juri stand up," tawa hadirin pun semakin keras.
Usai Edmundo, beberapa wartawan juga coba unjuk kebolehan menjadi comic. Perwakilan dari panitia Sail Journalist juga ada. Selain stand up, hiburan lainnya yaitu bernyanyi bersama.
(rna/fjp)










































