"Penyelenggara Munas Partai Golkar haruslah di pimpin oleh figur-figur yang netral dan bukan orang yang bermasalah, bukan juga orang-orang yang malah menjadi alat untuk kepentingan calon-calon tertentu," kata Jubir Poros Muda Partai Golkar Andi Sinulingga kepada detikcom, Jumat malam (5/2/2016).
Andi tak menyebutkan siapa figur bermasalah yang dimaksud. Sebaliknya, dia juga tak menunjuk orang yang diajukan menjadi panitia Munas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Baca juga: Ini Solusi Ical Soal Kepesertaan Pengurus Daerah di Munas Golkar)
"Kami belum mengantongi nama calon yang akan menempati kursi nomor satu di Partai Golkar. Bagi kami yang terpenting adalah menyelesaikan terlebih dahulu kedua hal yang kami sebutkan tadi," ungkap Andi yang pernah menjabat di Bappilu Golkar ini.
Munas disebut Andi harus menjadi momen terbentuknya Golkar yang baru. Partai berlambang beringin itu harus kembali menjadi harapan masyarakat.
"Poros Muda Partai Golkar berpandangan bahwa, pada prinsipnya, jika prosesnya baik maka hasilnya pun pasti baik," kata dia.
Seperti diketahui, konflik internal Golkar dimulai pada saat hendak digelar Munas pada tahun 2014. Ketika itu terjadi perbedaan pendapat dalam Rapat Pleno DPP Golkar pada 24-25 November 2014.
Munas IX Golkar kemudian jadi ada dua kubu setelah peristiwa tersebut. Kubu Munas Bali memilih kembali Aburizal Bakrie sebagai Ketum, sedangkan kubu Munas Ancol, Jakarta memilih Agung Laksono.
Hubungan kedua kubu kemudian 'hangat' dari sidang ke sidang. Seiring perjalanan konflik Golkar, kini kedua kubu sepakat untuk menyatu kembali lewat Munas X.
(Baca juga: Rapat Perdana Usai Konflik, Golkar Tak Bahas Panitia dan Jadwal Munas)
(bag/imk)











































