"Presiden meminta laporan dari Menteri Kesehatan melalui rapat terbatas salah satu yang dibahas adalah soal Zika. Tentu sebelum ada kesimpulan apapun, presiden harus memperoleh laporan yang lengkap, tentu itu dari jajaran di Kementerian Kesehatan," kata Juru Bicara Presiden Johan Budi di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (3/2/2016).
Jokowi ingin mendapatkan laporan lengkap dari Menkes terkait persebaran virus Zika. Dari data itu nanti akan diputuskan langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus yang menyebabkan microcephalus itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Indonesia memang belum ada laporan adanya warga yang tertular virus Zika. Untuk itu Presiden Jokowi ingin agar dilakukan pencegahan sedini mungkin.
Dalam rapat terbatas nanti juga akan dibahas pakah pemerintah akan mengeluarkan travel warning bagi WNI agar tidak ke Brazil atau tidak. Seperti diketahui, sudah ribuan orang dilaporkan terinfeksi virus Zika di Brazil.
"Itu nanti kita lihat dulu, tentu tidak bisa mengambil keputusan yang strategis serta merta tanpa mendengar, membaca data yang diperlukan dari Kemenkes dan Kemlu," tegas Johan.
(Baca juga: WHO: Dunia dalam Keadaan 'Darurat' karena Virus Zika)
Virus Zika dikaitkan dengan penyusutan otak pada bayi yang belum lahir sehingga menyebabkan kerusakan parah otak atau kematian. Zika telah menyebar ke lebih 20 negara dan menimbulkan kepanikan di Brasil, tempat ribuan orang terinfeksi.
Virus Zika ditemukan pada monyet-monyet di Hutan Zika, Uganda, pada 1947. Kasus pertama yang dialami manusia terjadi di Nigeria pada 1954, namun tidak menimbukan ancaman besar terhadap manusia dan diabaikan oleh komunitas ilmuwan.
WHO sudah menyatakan keadaan darurat terhadap virus Zika. (kha/hri)











































