Kasus terhangat, konflik yang terjadi antara Dita dan Masinton. Dita melaporkan Masinton ke Bereskrim Polri dan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR. Perempuan berambut panjang ini lalu meminta perlindungan ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) APIK serta Komnas Perlindungan Perempuan.
Dita menyebut Masinton melakukan penganiayaan dengan memukul 2 kali sehingga mata kanannya lebam. Gara-gara pukulan ini Dita mendapat perawatan di rumah sakit. Namun Masinton membantah melakukan pemukulan terhadap Dita. Ia bilang mata Dita terkena gerakan tangan staf ahlinya Abraham Leo secara tak sengaja saat menyetir mobil.
Selain itu, ada perseteruan Denty Noviany Sari dengan anggota DPR dari Fraksi Hanura Frans Agung Mula Putra Natamenggala. Ketika itu, Denty melaporkan Frans ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dengan dua laporan, pemecatan yang diduga sewenang-wenang dan dugaan penggunaan gelar doktor palsu. Tetapi, Frans membantahnya dan menegaskan dirinya memecat Denty karena terlibat memalsukan tanda tangannya.
Kisah heboh lainnya yakni aksi sekretaris pribadi tersangka Dewie Yasin Limpo, Rinelda Bandaso. Keduanya memang tidak berseteru. Tetapi aksi Rinelda menjadi perhatian publik karena sempat mengecoh KPK saat operasi tangkap tangan kasus dugaan suap dalam pembahasan anggaran tahun 2016 untuk pembangunan pembangkit listrik micro hydro di Papua.
Berikut 3 kisah lengkapnya:
1. Dugaan Penganiayaan
|
Foto: Ilustrasi oleh Mindra Purnomo
|
Ia lalu melaporkan bosnya itu ke Bareskrim Polri atas dugaan penganiayaan. Dita juga berencana melaporkan atasannya itu ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR.
Masinton punya versi tersendiri. Ia membantah melakukan pemukulan terhadap Dita. Menurutnya, mata Dita terkena gerakan tangan staf ahlinya Abraham Leo secara tak sengaja saat menyetir mobil. Saat itu, Dita masih dalam kondisi mabuk. Berteriak histeris, membesarkan volume radio, hingga terjadi insiden tiba-tiba menarik setir mobil saat mobil melaju.
"Tiba-tiba setirnya ditarik, kaget dong sopir aku yang bawa mobil. Tangannya ditepak karena mobil tiba-tiba ngerem. Dia (Abraham) reflek kena wajahnya (Dita)," ucap Masinton.
Fraksi PDIP sudah menerima klarifikasi dari Masinton. Diharapkannya, agar Dita mencabut laporannya ke Bareskrim dan bisa diselesaikan secara baik-baik. Masinton juga ditunggu klarifikasinya oleh Komisi III DPR. Sedangkan MKD DPR siap mengawal kasus dugaan pelanggaran ini.
Ketua MKD Surahman Hidayat siap bekerjasama dengan kepolisian. Dia menekankan meski tanpa aduan, MKD bisa ikut mengusut kasus ini karena sudah menjadi perhatian publik.
2. Tudingan Gelar Doktor Palsu
|
Foto: none
|
Laporan tentang penggunaan gelar palsu itu didasarkan pada penugasannya saat masih menjadi staf. Dia mengaku pernah diperintahkan untuk membuat kartu nama Frans Agung dan menambahkan gelar doktor.
Frans sudah membantah semua tuduhan Denty. Dia menepis pernah menggunakan gelar doktor palsu.
"Ini sudah politis karena saya sebagai calon bupati di Lampung Selatan. Saya mau nyalon, anak dua ini (dua orang eks stafnya -red) dimanfaatkan," kata Frans Agung saat dikonfirmasi, Rabu (27/5/2015).
Laporan Denty ditindaklanjuti oleh MKD DPR. Dalam putusan sidangnya, MKD menyatakan Frans terbukti melanggar kode etik ringan yang dikenakan sanksi teguran tertulis. Sementara soal penggunaan ijazah bukan ranah MKD. "Mengenai ijazah palsu bukan ranah MKD, itu kepolisian dan tidak ada yang dirugikan di sini. Kami jatuhkan putusan ringan berupa teguran tertulis," ujar Junimart.
3. Mengecoh KPK
|
Foto: Hasan Al Habshy
|
Sumber detikcom di KPK pada Jumat (23/10/2015) dini hari lalu, menceritakan bagaimana susahnya menangkap Dewie dan pihak penyuapnya. Ternyata, sekretaris pribadi Dewie, Rinelda punya cara untuk berkelit dari pantauan KPK.
Tim KPK awalnya mendapatkan informasi Dewie Yasin Limpo melalui Rinelda bersama bos PT Abdi Bumi Cendrawasih, Setiadi janjian untuk bertransaksi pada Selasa (20/10) siang di restoran Bakmi Naga di Kelapa Gading. Tim pun langsung bersiap untuk melakukan penangkapan.
Pada Selasa siang, 2 tim KPK berangkat ke arah Kelapa Gading, tepatnya ke restoran Bakmi Naga sekitar pukul 12.00 WIB. Berdasarkan pantauan, di dalam restoran sudah ada Setiadi, Harry, dan Iranius selaku Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Deiyai, Papua.
Tak lama berselang, Rinelda datang menaiki sebuah mobil. Sespri Dewie Yasin Limpo itu tak masuk ke restoran, dia malah tancap gas melewati Jalan Boulevard, Kelapa Gading. Tim 1 langsung membuntuti Rinelda, sedangkan tim 2 bertugas untuk mengawasi Setiadi dkk. Ternyata, mobil Rinelda terus berputar-putar di area Kelapa Gading.
Sekitar pukul 16.30 WIB, mobil Rinelda melaju ke arah Cempaka Putih. Tim KPK sempat kehilangan jejak karena jalanan sudah mulai macet. Beruntung tak berselang lama tim 1 kembali menemukan mobil Rinelda yang tengah berjalan menuju Kelapa Gading lagi. Di tempat lain, Tim 2 yang memantau gerak-gerik Setiadi dkk melihat ada pergerakan. Setiadi dan beberapa orang lain menaiki mobil rental berjalan menuju restoran Baji Pamai yang juga berada di Kelapa Gading.
Setiadi, Harry dan Iranius sampai di Restoran Baji Pamai. Tak berselang lama, Rinelda juga sampai ke restoran itu. Proses penyerahan uang senilai Rp 1,7 miliar pun dilakukan dengan cepat. Tim KPK sempat ragu, karena tidak melihat adanya uang yang diserahkan. Namun, tim lain yang juga melakukan pemantauan memastikan sudah terjadi penyerahan uang.
Keempat orang itu berada di restoran hanya sekitar 15 menit, tepat pukul 17.45 WIB, Rinelda dkk keluar dari restoran. Petugas KPK yang sudah melakukan pengejaran selama lima jam langsung bergerak cepat. Tim langsung menyergap keempat orang beserta sopir rental dan ajudan Setiadi di depan Restoran Baji Pamai.
Dari tangan Rinelda, penyelidik KPK menemukan adanya satu kantor plastik putih. Di dalamnya, ada bungkusan keripik yang berisi uang dalam pecahan dollar Singapura berjumlah 177.700 atau sekitar Rp 1,7 miliar. Rinelda yang saat itu mengenakan blazer cokelat tidak bisa mengelak. Dia bersama para pihak penyuap langsung digelandang ke KPK.
Saat penangkapan itulah penyelidik menemukan 5 telepon genggam dari tas Rinelda. Sespri Dewie itu ternyata menggunakan 5 telepon genggam agar tidak tersadap KPK. Dia menghubungi Setiadi untuk berganti tempat transaksi menggunakan nomor yang berbeda-beda sehingga cukup mempersulit tim KPK.
Setelah itu, komandan tim lalu memberikan posisi Dewie Yasin Limpo yang tengah berada di Bandara Soekarno Hatta untuk terbang ke Makassar. KPK langsung menghubungi Polres Bandara untuk meminta bantuan. Akhirnya, Dewie Yasin Limpo bisa ditangkap saat akan memasuki pesawat. Dewie ditangkap bersama staf khususnya, Bambang Wahyu Hadi yang akhirnya juga ditetapkan sebagai tersangka.
Saat akan digelandang ke tahanan, adik Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo itu membantah menerima suap. Menurut Dewie, dirinya tak pernah melihat apalagi menerima uang suap itu. "Saya tidak pernah menerima, melihat uang (suap) saja tidak pernah," kata Dewie dengan suara terisak ketika keluar dari ruang pemeriksaan sekitar pukul 02.33 WIB di KPK, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (22/10/2015) dini hari.
"Baru saya dengar (soal duit suap). Saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah," kata Dewie.
Halaman 2 dari 4











































