"Kegiatan ini menjadi pancingan buat pemerintah," ujar Fadhil kepada detikcom di Banda Aceh, Senin (1/2/2016).
Fadhil bercerita, tujuannya menggelar gebrakan sosial itu karena tidak sanggup melihat fenomena di lapangan. Ia menemui banyak sekali masyarakat di Aceh hidup di bawah garis kemiskinan dan menempati rumah tak layak huni. Rata-rata mereka tinggal di Aceh Utara, Aceh Besar, Aceh Timur, dan beberapa kabupaten lain di Aceh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edi Fadhil (Foto: Agus Setyadi/detikcom) |
Berselang beberapa hari kemudian, Fadhil membuat sebuah tantangan di akun Facebooknya. Siapapun yang me-like atau memberi komentar untuk menyumbang Rp 100 ribu. Dalam hitungan menit, foto yang diunggah Fadhil direspons. Ia menagih netizen untuk menyumbang.
"Dua hari berselang, terkumpul dana Rp 17 juta," urainya.
Dana sumbangan terus mengucur ke dalam rekeningnya dari hari ke hari. Setelah biaya cukup, Fadhil kembali mengunjungi pemilik rumah tersebut. Ia mengajak warga sekitar membongkar rumah yang ditempati satu keluarga itu secara gotong royong. Baru selanjutnya Fadhil membayar tukang untuk membangun kembali rumah dengan berdinding beton.
Rata-rata rumah yang dibangun Fadhil berukuran 6X6, berlantai semen, dan menghabiskan dana di bawah Rp 40 juta. Untuk satu rumah ditargetkan dibangun dalam waktu dua bulan. Saat ini, ia bersiap membangun rumah warga miskin ke-12.
(try/try)












































Edi Fadhil (Foto: Agus Setyadi/detikcom)