"Saya perintahkan Panglima, Kapolri, dan Kepala BIN untuk perkuat sinergi. Jangan lagi ada egosentrisme, jangan lagi ada kompartementasi, dan saya ingin komunikasi intelijen lebih meningkatkan kemampuan, kontra teror, deteksi, cegah dan tangkal teror," kata Jokowi saat membuka rapat di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (21/1/2016).
Pemberantasan terorisme harus fokus pada pelemahan kekuatan terorisme, kata Jokowi. Proses pelemahan itu, menurut Jokowi, dimulai dari ideologi, kepempinan, jejaring, organisasi, dan terorisme.
Presiden Jokowi didampingi Wapres Jusuf Kalla dalam memimpin rapat ini. Hadir pula di antaranya Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menko PMK Puan Maharani, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menkum HAM Yasonna, Mendikbud Anies Baswedan, Menristekdikti M Nasir, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Kepala BIN Sutiyoso, Jaksa Agung Prasetyo, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
"Saya juga minta pada Menkum HAM, Menag, Menkominfo, BNPT untuk lebih fokus dalam upaya kontra terorisme. Lanjutkan program deradikalisasi bagi para napi terorisme," imbuh Jokowi.
Sebelumnya wacana revisi ini disebut-sebut akan menambah wewenang BIN dalam melakukan penindakan. Kepala BIN Sutiyoso sebelum rapat juga menyatakan akan mengusulkan hal tersebut. "Itu kan ada beberapa kelemahan di situ (penindakan). Iya, akan diusulkan," kata Sutiyoso. (bag/aan)











































