detikNews
Kamis 21 Januari 2016, 10:06 WIB

'Iron Man' Dari Bali

Begini Canggihnya Tangan Cyborg Ciptaan Tawan, Ada Alat yang Beli dari AS

Ardian Fanani, - detikNews
Begini Canggihnya Tangan Cyborg Ciptaan Tawan, Ada Alat yang Beli dari AS Foto: Putri Akmal/detikcom
Jakarta - I Wayan Sumardana memang cerdas. Meski hanya lulusan SMK, dirinya bisa merakit "tangan cyborg"-nya dari barang bekas hingga bermanfaat dalam aktivitasnya. Alat ini diakuinya sangat menguras tenaga.

Ditemui detikcom di bengkelnya,  di Desa Nyuhtebel, Karangasem, Bali, Rabu (20/1/2016), Tawan, demikian Sumardana akrab disapa, mulanya mengaku pusing saat awal memakainya.

"Saya harus konsentrasi di awal penggunaan alat supaya bisa sinkron dengan simpul saraf yang menggerakkan alat tersebut," tutur Tawan.

Bahkan, Tawan memilih tidak tidur siang karena dia tak mau memulai proses awal pemakaian alat itu lagi. "Kerasa capek, penat, tegang karena full pemakaian pukul 08.00-18.00 Wita atau disesuaikan dengan banyaknya garapan," imbuhnya.

Komponen alat buatan Tawan mulai dari besi penopang, tabung hidrolis, hingga beberapa kabel terlihat bekas. Sumardana merancang, merakit dan menyambung sendiri seluruh item tersebut. Tak hanya itu, Tawan itu juga menggunakan CPU komputer, dinamo, tuning potensio, sensor ultasonik, sensor infra merah dan sensor jumlah putaran dinamo.
 
"Alat ini saya ciptakan untuk aktivitas saya. Ada sebagian yang saya buat dan sebagian saya beli. Dan saya rangkai sendiri," ujarnya kepada detikcom, Rabu (20/1/2016).

Satu komponen kunci, yakni sensor EEG (Electro Encephalo Graphi) dibelinya online dari Amerika Serikat (AS) senilai Rp 4,7 juta. Ia menjelaskan, alat ini berfungsi melalui sensor otak yang dipasang di kepala yang mengendalikan arah gerak ke tangan kirinya melalui alat yang dipasang di punggung dan tangan kirinya.

Untuk memuluskan gerak alat tersebut, Tawan memasang satu unit CPU komputer pun dipasang di bagian belakang tubuhnya. Fungsinya sebagai penggerak dari sensor di kepala. Tuning potensio merupakan rangkaian pengolah input dan output mikro kontroler.

"Infra merah, sensor ultrasonik, dan sensor jumlah putaran dinamo ini adalah rangkaian penguat power. Ada pula EEG. Semuanya tersambung ke dinamo agar dapat bekerja secara maksimal," jelasnya.
 
"Lalu ada drone, elektroda dan lainnya. Posisinya ditempel di kepala sebagai penangkap sinyal, alpa, delta, beta dan teta," tambahnya.
 
Hanya saja, alat tersebut membuatnya harus mengeluarkan energi ekstra. Pasalnya, Tawan harus benar-benar fokus dan berkonsentrasi. Jika tidak, alat tersebut akan bekerja secara tak normal.
 


Untuk menggerakkan lengan robotnya itu, Tawan membutuhkan listrik 500 voltase. Ini didapat dari baterai litiumoin yang dipasangnya. Agar dapat terus digunakan, alat ini harus terus diisi daya baterainya. Memakan waktu cukup lama untuk mengisi ulangnya. Biasanya, jika tak digunakan Tawan menyempatkan diri untuk mengisi ulang dayanya.
 
"Kalau orang pegang ini ya kena setrum. Tapi kalau saya sendiri yang memakai alat ini tidak (tersetrum). Biasanya jam 12 malam saya charge sampai jam 7 pagi. Kalau kekuatannya tergantung pemakaian. Kalau angkat yang berat-berat bisa cepat habis. Kalau hanya mengelas bisa tahan lebih lama," pungkasnya.
(dra/dra)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com