"Operasi lilin ini beda dengan operasi ketupat tahun lalu, di mana kita memfungsikan atas koordinasi dengan Kementerian PU yang kita memfungsikan akses tol darurat yang tembus ke Brebes Timur, itu sangat membantu, jadi lebaran tahun lalu cukup bagus," kata Condro.
Condro menyampaikan itu di sela-sela pemantauan arus lalin dari udara sejak Jakarta, Cikampek, Cipali dan Pejagan, Jumat (25/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain karena infrastruktur, liburan panjang dan pembatasan angkutan alat-alat berat yang beroperasi juga disebut jadi penyebab kemacetan parah.
"Karena libur panjang, lebaran yang lalu kan anak-anak sekolah sudah libur duluan, orang tuanya masih belakangan. Itu yang pertama. Yang kedua, alat-alat berat, angkutan-angkutan barang, itu masih operasional sepanjang ini," jelasnya.
Karena itu, lanjut Condro, pihaknya telah berkirim surat kepada Menteri Perhubungan agar angkutan berat kecuali sembako dan BBM untuk sementara tidak beroperasi saat operasi Natal dan tahun baru ini.
"Makanya kami mohon Kementerian Perhubungan membuat surat keputusan pelarangan tersebut. Puncak arus balik diprediksi 1, 2 dan 3 januari. Maka kita minta pelarangan angkutan berat mulai tanggal 31 Desember sampai 3 Januari," urai Condro.
Condro mengatakan, langkah-langkah antisipasi juga telah dilakukan. Seperti penambahan personel di simpul-simpul kemacetan serta berkoordinasi dengan pengelola jalan tol agar transaksi di pintu tol dipercepat karena menyebabkan antrean.
"Khusus jalur arteri dilakukan kontra flow, kalau sudah sangat padat dilakukan kontra flow. Kalau di Pejagan ini juga menginformasi kepadatan ke Cirebon, agar petugas membuang arus ke Tol Kanci. Namun itu belum dilakukan," tutupnya. (idh/Hbb)











































