Firman merupakan salah satu warga binaan Lapas Kelas IIA Bekasi. Selama menjalani masa tahanan, Firman mendapatkan banyak manfaat dari pelatihan keterampilan dan kemandirian di bidang pertanian dan perkebunan.
"Saya sudah 14 bulan menjalani masa tahanan. Saat ini Alhamdulillah sudah memenuhi syarat menjalani masa tahanan, sekitar 4 bulan lagi akan keluar," ujarnya di acara Festival Napi Berkebun di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jaksel, Sabtu (19/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendapatkan pelatihan mengelola pertanian dan perkebunan di Lapas adalah manfaat tersendiri yang disyukuri Firman. "Basicnya memang saya di pertanian, karena diajarin, semakin dimatengin dan diberi pembinaan, jadi nggak terlalu sulit," kata warga Cikarang ini.
Manfaat yang diterima tak hanya dirasakan Firman, namun semua rekannya sesama napi di Lapas Kelas IIA Bekasi yang berlokasi di Bulak Kapal ini. "Saya merasa banyak manfaatnya, ternyata ilmu yang kita enggak tahu, karena dibina kita mengerti dan menjadi lebih matang," kata Firman.
Setelah keluar nanti, memang Firman belum memiliki rencana untuk kembali menekuni pertanian dan perkebunan. "Sebelum masuk, saya kerja di kontraktor, jadi mungkin nanti mau balik lagi di kontraktor, tapi bisa nanti iseng-iseng berkebun karena sudah diajari bercocok tanam. Sayang kalau tidak dimanfaatkan," ujarnya.
Lapas Kelas IIA Bekasi memiliki komoditi utama pembibitan mahogani. Saat ini ribuan bibit telah diperjualbelikan ke masyarakat luas. Selain itu mereka juga memiliki komoditas pertanian bermacam sayuran dan palawija seperti sawi, jahe merah, mangga jenis Ki Ojay serta pembibitan bunga matahari.
Selama 2,5 tahun melaksanakan program ini, sekitar 1700-an napi bekerja secara antusias melaksanakan program pembinaan dan pelatihan di Lapas tersebut. Walaupun lahannya hanya berupa 2 kanal sepanjang 120 meter, namun beragam jenis tanaman dapat tumbuh serta menghasilkan manfaat bagi masyarakat dan para napi. (rni/aan)











































