Syiah Jadi Target Serangan, Luhut: Antisipasi Pakai Pendekatan Agama

Syiah Jadi Target Serangan, Luhut: Antisipasi Pakai Pendekatan Agama

Elza Astari Retaduari - detikNews
Kamis, 03 Des 2015 03:44 WIB
Syiah Jadi Target Serangan, Luhut: Antisipasi Pakai Pendekatan Agama
Foto: Luthfy Syahban
Jakarta - Menko Polhukam Luhut Pandjaitan menyebut kelompok Syiah di Indonesia menjadi target serangan. Pemerintah pun menggunakan pendekatan agama untuk menghadapi para pelaku teror.

"Ya kita amati terus, kita sangat hati-hati menyikapi ancaman ini. Karena pemerintah itu mendekati masalah seperti ISIS ini dari pendekatan soft approach, adalah pendekatan agama dan budaya," ungkap Luhut di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Rabu (2/12/2015) malam.

"Kita nggak mau seperti negara barat yang melakukan pendekatan dengan kekerasan. Itu adalah pilihan terakhir," sambungnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Luhut menyebut ada beberapa kelompok Syiah yang menjadi target serangan di Indonesia. Pihaknya pun sudah bekerja supaya tidak terjadi sesuatu yang dapat mengancam keselamatan warga.

"Ada beberapa tentu saya enggak perlu expose. Kami sudah bekerja, polisi, BIN sudah bekerja. Doakan saja kita semua bisa mengantisipasi semua. Kapolri sudah melaporkan. (Informasi didapat) Dari berbagai sumber terpercaya, counter part kita juga," jelas Luhut.

Meski mayoritas warga Indonesia adalah Muslim, ISIS yang membawa-bawa agama sepenafsiran ideologi mereka tetap menjadi target. Menurut Luhut, mereka ingin Tanah Air menjadi tidak kondusif.

"Ingin targetkan membuat suasana jadi enggak stabil, misalnya mereka targetkan komunitas Syiah sehingga mereka ingin melihat seperti di Irak, Suriah, Yaman. Kita enggak mau seperti itu. Kita ingin Indonesia menjadi negara yang hidup penuh kedamaian," tegas Letjen Purnawirawan itu.

Dengan maraknya aksi-aksi terorisme, pemerintah disebut Luhut berencana untuk merevisi UU Terorisme. Hukuman terhadap aksi teror akan semakin diperkeras dan juga diperketat. Pemerintah melihat radikalisme sudah menyasar melalui media sosial sehingga perlu ada aturan yang jelas dan semakin tegas lagi.

"Ya lebih keras karena sekarang ini perubahan digital ini IT sangat besar, jadi, jangan salah kutip ya, misalnya saya katakan media sosial perlu kita awasi. Bukan medianya, tapi content yang membuat radikalisasi yang kita ingin perhatikan," terang Luhut.

"Jangan sampai kita mem-broadcast berita-berita yang malah membuat negara jadi berkelahi satu sama lain," imbuh mantan anggota Korps Baret Merah (Kopassus) itu.

Sementara itu Kapolri Jenderal Badrodin Haiti menyatakan bahwa pihaknya sudah waspada akan adanya ancaman terhadap kelompok Syiah di Indonesia. Itulah yang menjadi salah satu faktor mengapa kini Polri meningkatkan pengamanan.

"Anda merasakan ada peningkatan enggak? Kalau ke bandara kan ada peningkatan, kalau ke tempat-tempat umum kan ada peningkatan," ucap Badrodin di lokasi yang sama.

Badrodin juga menyebutkan bahwa ancaman teror bukan baru kali ini saja terjadi. "Ya iya makanya itu kita sampaikan, dari ISIS juga ada ancamannya kepada Polri, panglima TNI, pejabat Densus, orang-orang Syiah itu. Dari dulu sudah ada. Kita minta waspada," tutupnya.

(ear/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads