Kepada detikcom, Senin (23/11/2015), Chabib menceritakan masa lalunya. Dia merupakan anak anggota TNI. Didikan keras dari orangtua membuatnya memberontak. Hal itu mencapai puncak di usia remaja.
Chabib dua kali dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi dan mengajak teman-temannya demo menolak kenaikan biaya sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
Chabib menghabiskan waktu di jalanan. Hingga akhirnya dia dikirim keluarganya untuk direhabilitasi di Suralaya, Tasikmalaya. Setelah lulus SMA, bukannya meneruskan sekolah, dia kabur ke Yogyakarta.
Dia memilih kembali ke jalanan. Menjadi pemulung, dia berkeliling Yogya dengan becak dan tidur di kawasan Malioboro.
Hingga akhirnya Chabib terjaring razia Pasukan Satpol PP saat sedang tidur di kawasan Malioboro. Dia bersama puluhan temannya yang lain dipaksa naik ke truk sampah.
Tak terima diperlakukan semena-mena, Chabib berontak dan hasilnya dia babak belur dipukuli petugas.
"Saya hanya protes, kenapa harus pakai truk sampah? Kita ini manusia. Silakan razia tapi jangan pakai truk sampah. Kalau sekarang sudah tidak lagi," kata Chabib.
Momen itulah yang menjadi titik balik Chabib. Dia mengajak teman-temannya yang juga hidup di jalanan untuk berbuat kebajikan. Membantu orang-orang yang hidup di jalanan secara manusiawi.
(Foto: Sukma Indah P/detikcom) |
Chabib dkk kemudian menemui Emha Ainun Najib atau Cak Nun. Mereka menceritakan kegelisahannya.
"Saat itu Cak Nun adalah Presiden-nya Malioboro, beliau punya pengajian Macapat juga kan," ujar Chabib.
Pertemuan Chabib dengan Emha Ainun Najib semakin meyakinkan langkahnya untuk memberi manfaat bagi orang lain. Dibantu oleh Busyro Muqoddas (eks pimpinan KPK), dia mewujudkan mimpinya. Sebuah rumah singgah yang dinamai Hafara yakni singkatan dari Hadza min Fadli Rabbi berdiri pada 2004.
Chabib menggandeng teman-teman senasibnya selama hidup di jalanan. Awalnya, panti Hafara berdiri di tanah sitaan bank di kawasan Gonjen, Tamantirto, Kasihan, Bantul, 6 tahun terakhir berada di tanah kas desa di Desa Brajan, Tempuran, Tamantirto, Kasihan. Puluhan orang dirawat di tempat tersebut.
(sip/try)











































(Foto: Sukma Indah P/detikcom)
(Foto: Sukma Indah P/detikcom)