"Sejak awal terbang sampai sekarang enggak ada kontak, artinya bahwa heli itu untuk kembali ke Kualanamu dari Samosir enggak melakukan kontak," ujar Direktur Navigasi Penerbangan Kemenhub Novie Rianto.
Hal tersebut disampaikannya dalam jumpa pers di Kantor Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2015). Hadir pula dalam jumpa pers Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara Moh Alwi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Instrumen lain yang tidak dipenuhi adalah, persyaratan jarak minimal visibility. Pasalnya penerbangan tersebut dilakukan dengan metode visual.
"Berdasarkan data metereologi yang kami kumpulkan, visibilitas pada pukul 11.30 WIB itu antara 400-800 meter sehingga ini tidak boleh dilakukan penerbangan secara visual. Karena untuk visual paling tidak, baru bisa terbang kalau visibility minimal 5 km. Penerbangan pesawat ini menggunakan metode visualisasi," jelas Novie.
"Disiplin dalam penerbangan kan harus dilakukan apalagi asap-asap lagi seperti itu di Sumatera. Dari Samosir sampai hilang enggak pernah pilot melakukan kontak atau isi flight planning, ini melanggar prosedur," sambungnya.
Heli dengan nomor registrasi PK-BKA ini dipiloti oleh Capt Teguh Mulyanto dan juga membawa serta sang engineer Heri Purwantono. Adapun 3 penumpangnya adalah Nurhayanto, Giyanto, Frans.
"Ini jenis pesawat carter niaga. Awalnya pesawat itu dicarter bawa satu keluarga dari Medan, landing sukses di Samosir. Kalau berangkatnya ini mereka lapor. Tapi pas pulangnya dari Samosir ke Kualanamu tidak, enggak pernah ada kontak," terang Novie.
"Pas balik ini bawa temen-temennya, itu penumpangnya. Saya juga kurang paham apakah itu kru lain dari PT PAS apa bukan, tapi yang jelas teman-temannya," sebut Novie. (ear/hri)











































