Mungkinkah Ada Manipulator yang Bisa Membuat Rupiah Jungkir Balik?

Mungkinkah Ada Manipulator yang Bisa Membuat Rupiah Jungkir Balik?

Erwin Dariyanto - detikNews
Senin, 12 Okt 2015 16:14 WIB
Mungkinkah Ada Manipulator yang Bisa Membuat Rupiah Jungkir Balik?
Ekonom Dradjad H Wibowo (kemeja putih lengan pendek) - Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Jakarta - Nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami pergerakan yang cukup mengejutkan pekan lalu. Sempat menyentuh ke posisi Rp 14.400, rupiah kemudian menguat signifikan menjadi Rp 13.400 per dolar AS.

Sejumlah ekonom menyebut bahwa naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS salah satunya dipicu oleh kebijakan Bank Sentral di negeri Paman Sam (The Fed) yang tidak menaikkan suku bunga acuannya. Faktor lainnya adalah 3 paket kebijakan ekonomi Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan cairnya pinjaman dari Bank Pembangunan China (China Development Bank/CBD) ke sejumlah BUMN Indonesia sebesar Rp 39 triliun.

Namun ekonom sekaligus Chairman Sustainable Development - Indonesia (SDI) Dradjad H Wibowo menyebut bahwa kebijakan The Fed, paket kebijakan ekonomi Presiden Jokowi, dan utang dari CBD tak akan mampu mendongkrak nilai tukar rupiah hingga 8,3 persen dalam waktu sepekan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau rupiah menguat 1-2 persen, mungkin masih wajar. Tapi lonjakan 8,3% sangat tidak masuk akal. Kalau hanya faktor fundamental dan kebijakan ekonomi, tidak akan sedrastis itu," kata Dradjad saat berbincang dengan detikcom, Senin (12/10/2015).

Dradjad juga membantah cairnya pinjaman CBD ke tiga BUMN Indonesia senilai Rp 39 triliun mampu mengangkat rupiah hingga 8,3 persen. Mantan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional itu menyebut bahwa utang dri CBD ke tiga BUMN tersebut sudah ramai sejak Mei dan teken kontrak pada 16 September 2015 lalu.

Namun faktanya pada bulan tersebut nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot hingga pekan pertama Oktober. Saat ini memang dana pinjaman dari CBD itu sudah cair, namun kata Dradjad nilainya masih kecil.

"Jika dibandingkan dengan kemerosotan cadangan devisa, dana yang masuk tersebut sangat kecil. Tidak mungkin bisa menggerakkan rupiah naik 8,3 persen dalam hitungan hari," kata Dradjad.

Dia  meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan aparatnya melakukan penyelidikan untuk mengusut praktik manipulasi rupiah. "Saya mengusulkan agar Presiden memerintahkan penyelidikan supaya manipulasi rupiah ini bisa kita bersihkan. Sudah terlalu banyak perusahaan sektor riil yang jadi korban perilaku manipulasi rupiah," kata Dradjad yang pernah aktif di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) itu.   
 
Akankah Jokowi memerintahkan pengusutan untuk membuktikan adanya manipulator yang bisa membuat rupiah jungkir balik?

(erd/nrl)


Berita Terkait