Tikus Ompong, Tikus Air, Tikus Hidung Babi dan Misteri Lain di Sulawesi

ADVERTISEMENT

Tikus Ompong, Tikus Air, Tikus Hidung Babi dan Misteri Lain di Sulawesi

Rachmadin Ismail - detikNews
Kamis, 08 Okt 2015 12:18 WIB
dok. Museum of Victory
Jakarta - Para peneliti begitu semangat melakukan penelitian tikus di hutan Sulawesi. Setelah temuan tikus ompong, tikus air dan tikus hidung babi, mereka menduga masih banyak misteri hewan lain yang belum terdokumentasi.

Peneliti dan kurator koleksi mamalia Museum Zoologi Bogor Anang S Achmadi sejak tahun 2010 fokus melakukan penelitian di hutan-hutan perawan Sulawesi. Setahun mereka bisa terjun ke lapangan dua kali. Menerjang lebatnya hutan dan tinggal berhari-hari di sana, untuk mencari kemungkinan spesies tikus baru. Jenis mamalia yang memang jadi fokus penelitiannya.

Anang sudah pernah meneliti di hutan pegunungan Latimojong, Sulawesi Selatan, lokasi yang banyak diperbincangkan setelah pesawat Aviastar jatuh. Selain itu, peneliti Biologi LIPI ini juga blusukan ke hutan Lore Lindu, Luwuk Banggai, Gandang Dewata. Setelah itu, tahun 2015 mereka bergerak Dako, Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Selama proses pencarian itu, mereka sudah menemukan tiga genus baru dari famili tikus dan berbagai spesies lain. Pertama, tikus ompong atau aucidentomys vermidax, yang artinya "tikus dengan sedikit gigi". Hewan itu adalah satu-satunya binatang pengerat dari lebih 2.200 spesies yang diketahui tidak punya geraham, dan hanya punya gigi seri atas. Tikus tersebut ditemukan Gunung Latimojong dan 100 kilometer barat laut di Gunung Gandangdewata.

Tikus ompong (dok. museum of victoria)


Tikus kedua yang sejauh ini ditemukan Anang dan tim adalah tikus air atau Waiomys mamasae. Tikus ini memiliki ukuran panjang badan, termasuk ekor, mencapai 25 cm. Pada empat kakinya terdapat selaput agar tikus itu bisa berenang.

tikus air (museum of victoria)


Terakhir adalah tikus hidung babi atau Hyorhinomys stuempkei. Tikus ini ditemukan pada ketinggian 1.600 mdpl di Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli. Ia dibedakan dari spesies tikus Indonesia lainnya berdasarkan ukuran hidung yang besar, datar, berwarna merah muda dengan moncong hidung menghadap ke arah depan.

"Ini (tikus hidung babi) adalah temuan genus baru yang ketiga. Ini bukan ending. Beberapa jenis genus baru masih dalam proses analisi dan menulis secara ilmiah," kata Anang saat berbincang dengan detikcom, Kamis (8/10/2015).

Anang bersama pemandu dan peneliti lain (dok. Anang S Achmadi)


Dalam beberapa bulan lagi, Anang membuka kemungkinan bakal ada temuan-temuan genus baru yang akan diumumkan. Hal ini menunjukkan masih banyaknya potensi misteri hewan-hewan yang belum terdokumentasikan oleh para peneliti.

"Bukan hanya di Sulawesi, tapi di seluruh Indonesia masih ada potensi menemukan sesuatu yang baru," ungkapnya.

Menurut data Anang, saat ini ada 722 mamalia yang terdaftar asli Indonesia. Tikus hidung babi adalah temuan yang paling terbaru. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, maka buku-buku pelajaran di sekolah juga harus selalu diperbarui.

dok. Anang S Achmadi
(mad/nrl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT