"Sudah hampir 2 bulan. Kalau sudah pagi atau sore seperti pukul 15.00 WIB, itu sudah gelap seperti malam. Bukan hanya asapnya, tapi debu akibat bekas kebakarannya kemana-mana. Kalau di Medan ada debu Gunung Sinabung, di Jambi debu kebakaran," ujar anggota Fraksi PAN itu kepada detikcom, Selasa (29/9/2015).
Bakri yang tinggal di Telanaipura, Kota Jambi itu mengatakan bencana asap menghambat aktivitas perekonomian dan pendidikan. Belum lagi asapnya yang sangat menyengat mengganggu pernafasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penerbangan sudah distop, pelayanan kapal juga sudah stop. Padahal Jambi itu perekonomiannya melalui laut ada sungai Batanghari. Karena asap, sekarang yang diandalkan cuma angkutan darat, itu pun tidak seperti dulu," ucap Bakri yang pulang dari Jambi akhir pekan kemarin.
"Jadi yang pusingnya ini betul-betul masyarakat Jambi sudah dicekam ketakutan," tambah anggota komisi V DPR itu.
Bakri berharap pemerintah pusat lebih cepat menangani bencana asap yang sudah menyebar ke negara tetangga. Pasalnya, kemampuan pemerintah daerah terbatas untuk menghadapi bencana tahunan ini.
"Jokowi melalui jubirnya mengatakan mau ke Jambi, sampai sekarang tidak ada karena alasan jarak pandang. Harusnya pada saat seperti ini Jokowi ke Jambi," terang Bakri.
"Jangan alasannya tidak bisa mendarat, Pak Jokowi bisa melalui darat dari Palembang supaya tahu melihat asapnya di mana-mana," imbuhnya.
Tak sampai situ, Bakri berharap pemerintah tidak saja fokus menangkap pembakar hutan atau lahan, tapi juga menuntasnya kebakarannya. "Jadi jangan hanya orangnya ditangkap apinya nggak dipadamkan," ucap anggota DPR dua periode itu.
(bal/erd)











































