"Saya belum melihat ke arah itu karena belum ada bukti. Tapi karena bisnis ini sangat besar, bahkan ratusan triliun rupiah, tidak menutup kemungkinan industri rokok ada yang bermain," kata Tifatul yang juga anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/9/2015).
Lebih baik, kebudayaan-kebudayaan adilihung lain saja yang dimasukkan dalam RUU Kebudayaan, semisal wayang, sistem pertanian subak, atau hal lainnya. Soal kretek dan tembakau pada umumnya, lebih baik masuk dibahas di RUU Tembakau yang kini juga dibahas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan Presiden PKS ini menilai tak semua kebiasaan, atau dalam kasus ini muncul dalam terminologi 'kebudayaan', patut dilestarikan. Ada pula kebudayaan yang perlu ditinggalkan.
"Ada satu suku kanibal, kalau ada musuh tertangkap maka dimasak direbus dan dimakan. Itu mau dilestarikan? Kalau yang nggak baik ya kita tinggalkan," tuturnya.
Budaya yang merusak kesehatan sebaiknya tak usah diteruskan. Apalagi, semua hampir sepakat bahwa tembakau tak baik bagi kesehatan.
"Orang suka mengkonotasikan PKS dengan dalil agama. Kali ini tak usah pakai agama deh, pakai kesehatan saja, (tembakau) bagus tidak kira-kira?" kata dia.
Dia bahkan tak sepakat bila kretek adalah budaya yang merata di Indonesia. Di daerah asal Tifatul, yakni Sumatera Barat, dikatakannya tak ada budaya kretek.
"Malah di tempat saya yang ada adalah daun nipah, daun kaung namanya," kata dia memeragakan orang sedang merokok.
Untuk tembakau sendiri, Tifatul yang berada dalam pembahasan RUU Tembakau berusaha mengetatkan pengendalian konsumsi tembakau. Jadi soal pasal kretek, PKS juga konsisten.
"PKS menolak dari awal. Kita berjuang," kata Tifatul.
(dnu/erd)











































