Pria berusia sekitar 45 tahun itu merupakan Komandan Jihad Maluku dan Panglima Operasi Pusat Komando Jihad Maluku (PRJM) Tahun 1999-2000 dan narapidana yang terlibat dalam perbantuan terorisme.Β Kini, dia aktif mengisi diskusi dan ceramah untuk memberi pencerahan kepada masyarakat agar tidak terpengaruh pada pahan terorisme dan ISIS, di sela-sela masa tahahannya mendekam di Lapas, Cianjur, Jawa Barat.
Sebelum dipindahkan ke Lapas, Cianjur, Jumu terlebih dahulu menghuni lapas Mako Birmob, Kelapa Dua, Depok. Di tempat itu, dia bertemu dengan sejumlah tahanan teroris dan ISIS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin, Jumu menjadi narasumber diskusi deradikalisasi di Kota Tasikmalaya. Sudah 4 kota yang ia kunjungi untuk mengisi diskusi guna mencegah warga dari pengaruh paham ISIS dan Terorisme. Sebelumnya, dia mengisi diskusi di Kota Padang dan Ambon.
Jumu mengatakan, teroris dan ISIS merupakan khawarij, yaitu memberontak kepada penguasa dan menyimpang dari ajaran-ajaran islam. Menurut kesepakatan ulama, Khawarij atau kelompok radikal yang disebutnya sangat sesat itu menyimpang dari tiga sisi.
Pertama, mereka gemar mengkafirkan kaum muslimin. Kedua, mereka keluar dari ketaatan penguasa kaum muslimin lalu memberontak kepada penguasa. "Ketiga, mereka gemar membunuh mengambil harta kaum muslimin. Yang sekarang kita kenal mereka bilang fai," ujarnya.
Di lapas Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Jumu yang bertemu dengan para tahanan teroris dan ISIS pun memberikan ceramah dan pencerahan.
"Saya bertemu dengan mereka (tahanan teroris) yang pertama saya katakan bahwa hidayah itu kan urusan Allah. Pada saat saya bertemu dengan mereka dan saya melihat penyimpangan sebagaimana yang saya sebut tadi, itu ada yang sadar. Dan ada yang sampai nangis. Mereka menyesali," ungkapnya.
Menurut Jumu, dia tidak ada bertemu dengan nama-nama tenar dari kelompok teroris saat mendekam di tahanan Mako Brimob. Tapi hanya orang-orang pemula dari Kelompok Solo, Jawa dan Poso.
"Itu hanya orang-orang pemula yang saya sendiri tidak kenal. Karena kalau yang saya kenal itu, petinggi-petinggi mereka itu dulu anak buah saya di Ambon," sebutnya.
"Yang nongol ini orang-orang yang mereka menyatakan bahwa diri mereka itu mujahid lalu dengan ilmu-ilmu yang pas-pasan mengompori orang-orang, mantan preman, mantan begal untuk menjadi teroris, ini terjadi di Mako brimob saya temui. Ada yang divonis 6 tahun nangis, jenggotnya panjang sekali, nangis.Β Mereka preman, ditarik oleh aktivis teroris untuk jadi teroris, sementara ilmunya nggak ada sama sekali," sambungnya.
Berdasarkan pengakuan dari sesama tahanan, kata Jumu, para tahanan itu bergabung ke kelompok teroris lebih karena berdasarkan faktor ekonomi.
"Yak, itu tepat (faktor ekonomi). Mereka mantan begal, pada saat aktivis teroris ini datang ke mereka lalu bilang, 'apa yang antum lakukan itu salah, itu mencuri. Tapi kalau antum gabung sama kami, lalu mencuri, sebagian harta itu dibagi kepada jihadis, itu adalah harta fai yang halal'. Jihad yang dimaksud itu adalah membunuh polisi," ujarnya.
Jumu juga berpesan kepada masyarakat agar tidak bergabung dengan kelompok teroris dan juga terbujuk untuk berangkat ke ISIS Suriah. Selain mengatasnamakan jihad, ISIS juga mengimingi-imingi gaji sebesar Rp 20 juta per bulan.
Pengakuan dari WNI yang berangkat ke Suriah, lanjut Jumu, salah satunya adalah mantan anak buah Jumu di Ambon, dia justru diperintahkan untuk membunuh sesama muslim.
"Dia 6 bulan disana (Suriah), dan dia menyatakan keluar, dan alhamudillah lolos keluar. Setelah dia keluar, dia menyatakan ISIS sesat, dan orang-orang yang menyatakan baiat ke ISIS (di Ambon) akhirnya keluar," pungkas Jumu yang bertekad akan terus berdakwah baik saat ini maupun ketika telah bebas nanti. (idh/dra)











































