"Sekarang waktunya untuk merenungkan apa yang telah kita capai, memahami apa tantangan-tantangan yang kita hadapi, dan mengarahkan hubungan bilateral untuk mencapai kemakmuran bersama. Setelah hubungan kita lebih matang, sekarang saatnya untuk membawa hubungan AS-Indonesia ke tahapan yang lebih tinggi," kata Menlu Retno.
Hal itu dia utarakan dalam pidato di gala dinner yang diadakan oleh United States-Indonesia Society (USINDO) dan dihadiri oleh sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan di Washington DC, AS, Senin (21/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di bidang perdagangan dan investasi, hubungan kita seyogyanya bersifat timbal-balik antara ekonomi terbesar dunia dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Ini mencakup peningkatan hubungan antar-kalangan bisnis di kedua negara dan mendorong kolaborasi dalam ekonomi kreatif berbasiskan inovasi dan teknologi informasi," papar Menlu.
Di bidang pertahanan dan keamanan, lanjutnya, kerja sama selayaknya lebih strategis dan komprehensif, dengan prioritas pada pengembangan dan produksi bersama teknologi pertahanan dan transfer teknologi. Sementara di bidang pendidikan, Menlu AS John Kerry telah berkomitmen untuk mengatasi masalah penurunan jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di AS.
"Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa menjadi partner yang dapat diandalkan dalam memajukan Islam moderat dan membantu menjangkau dunia muslim," kata Menlu.
Elemen kedua, Indonesia dan AS secara bersama-sama mengatasi tantangan regional dan global. Hal iniย mencakup isu keamanan maupun non-keamanan. Menurutnya, tidak ada tantangan yang bisa diatasi tanpa keterlibatan Amerika. Sebaliknya, baik Amerika maupun negara lain tidak ada yang sanggup mengatasi tantangan-tantangan tersebut sendirian.
"Ini terutama ketika menyangkut kepentingan yang kompleks dan saling berbenturan di kawasan laut seperti yang terjadi di Laut Tiongkok Selatan. Indonesia dan AS perlu bekerja sama untuk membuat dunia lebih baik, lebih aman, dan nyaman untuk tinggal," tegas Menlu.
Elemen ketiga, lanjut Menlu, adalah pelibatan diplomasi Jalur Kedua dalam hubunganย Indonesia-AS, atau dengan kata lain partisipasi aktor-aktor non-negara. Sebagai Jalur Pertama, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian untuk mencapai tujuan dan kepentingan bersama.
"Dalam konteks inilah USINDO memainkan peran penting untuk meningkatkan pemahaman yang lebih dalam di antara warga kedua negara. USIINDO tak bisa dipungkiri adalah bagian dari diaspora Indonesia. Selain Indonesia, hanya AS yang memiliki presiden yang merupakan diaspora Indonesia," kata Menlu. (try/try)











































