Untuk itu RS Pusat TNI AD (RSPAD) Gatot Soebroto Ditkesad melakukan persiapan penunjang dan fasilitas penanggulangan pasien MERS. Hari ini para petugas medis beserta jajarannya melakukan simulasi atau geladi penanganan kasus MERS CoV.
"Sebagai rumah sakit tertinggi di lingkungan TNI dan juga rujukan untuk kasus-kasus infeksi saluran napas, maka diperlukan penyiapan sarana dan prasarana serta SDM yang kompeten," ujar Kepala RSPAD Brigjen TNI dr. Terawan A.P. Sp.Rad (RI) di RSPAD, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2015).
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Simulasi dimulai dengan bagaimana SDM di RSPAD harus mampu terkait komunikasi dan pengendalian dalam penanganan pasien MERS-CoV. Kemudian triage atau pemisahan pasien.
"Mana yang emergency, mana yang bisa dirawat biasa. Penanggulangannya kayak apa. Pemisahannya di tempat apa, apa perlu dimasukkan ke ICU tekanan negatif. ICU ini bukan tempat biasa. Tujuannya supaya tidak ada penyebaran," jelas Terawan.
ICU bagi pasien penderita penyakit seperti MERS ini berbeda dengan ICU untuk penyakit umum. Ini dirancang khusus sesuai standar WHO dalam penanggulangan kasus-kasus yang memerlukan tempat isolasi.
Para staf dan pekerja medis dalam simulasi ini juga memperagakan bagaimana cara transportasi bagi pasien MERS. Lalu menggunakan peralatan sesuai standar operasional prosedure. Termasuk dalam perawatan terhadap pasien.
"Kunci pertama penanganan triageย pada pasien itu. Kedua pada bagaimana pemisahan pasien atau isolasi, pasien harus mendapat penanganan yang memadai namun terpisah dari pasien lain, dan terpisah sementara dengan kontak pasien atau keluarga supaya penyebaran bisa dihentikan," tutur Terawan.
Alur penanganan pasien suspect/probable atau dan atau confirmed MERS CoV dimulai dari poliklinik, IGD, atau fasilitas kesehatan rujukan/non rujukan. Pasien pun lantas dibawa terlebih dahulu ke ruang isolasi pandemi dan baru dilakukan triage. Pemisahan pun perlu melihat tingkat kegawatan keadaan umum pasien.
Jika tidak terlalu emergency, pasien hanya perlu dirawat di ruang rawat isolasi pandemi kemudian mendapat penanganan medis. Namun jika emergency, untuk penanganan medis pasien harus dimasukkan ke dalam ICU isolasi pandemi tekanan negatif dan.
"Geladi dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme personel RSPAD Gatot Soebroto. Sebagai upaya peningkatan kemampuan kognitif dan psikomotor SDM yang sekaligus merupakan tolok ukur tingkat pemahaman dari SOP penanganan kasus MERS CoV," Terawan menerangkan.
"Kami juga undang dokter-dokter RS di bawah jajaran TNI di daerah-daerah dalam geladi ini. RSPAD Gatot Soebroto sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di lingkungan AD dan rujukan kasus Flu Burung, melakukan geladi untuk penanganan kasus MERS CoV sebagai bentuk antisipasi terhadap terjadinya Pandemi MERS CoV di Indonesia," tutupnya. (elz/hri)