100 Tahun Menata Kota, Kini Shanghai Pamer Kecantikan

Laporan dari Shanghai

100 Tahun Menata Kota, Kini Shanghai Pamer Kecantikan

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Minggu, 20 Sep 2015 15:07 WIB
100 Tahun Menata Kota, Kini Shanghai Pamer Kecantikan
Foto: Ayunda Widyastuti Savitri
Jakarta - Pembangunan kota yang baik harus dimulai dari perencanaan yang baik pula. Shanghai sebagai pusat ekonomi di Tiongkok membutuhkan waktu hingga 100 tahun untuk menata kotanya.

Peta tata kota Shanghai


Untuk mengabadikan potret wajah kota seluas 6.340 kilometer persegi ini dari waktu ke waktu, pemerintah setempat pun membangun gedung eksibisi bernama Shanghai Urban Planning Exhibition Center di pusat kotanya. Di tempat ini terdapat pameran replika seluruh bangunan Shanghai pada masa lalu, masa kini dan masa depan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikcom berkesempatan mengunjungi gedung berisi penataan kota di 100 People's Avenue, Shanghai, Tiongkok, Minggu (20/9/2015) bersama rombongan MPR. Di sana, seorang pemandu menjelaskan sejarah pembangunan Kota Shanghai lengkap dengan perkembangannya.

Di lantai dasar terdapat miniatur bangunan-bangunan kebanggaan Shanghai, mulai dari yang paling terkini hingga terdahulu yang masih terawat. Kemudian juga ada peta seisi Kota Shanghai dalam bentuk lingkaran di lantai lengkap dengan nama-namanya.

Dijelaskannya, Shanghai secara administratif setara dengan sebuah provinsi atau kabupaten di Tanah Air. Shanghai terbagi lagi menjadi 16 distrik yang lebih kecil yang dipisah atau dibelah Sungai Huangpu menjadi dua bagian, yakni Puxi (barat) dan Pudong (timur).

Pembangunan di kota ini dimulai pada tahun 1930-an. Kala itu, bangunan yang berdiri masih banyak yang bergaya Eropa. Pemandu menjelaskannya melalui pemutaran video yang dilengkapi miniatur bergerak untuk visualisasi di lantai 2.

Kota Shanghai benar-benar mulai berdandan dan mempercantik diri pada tahun 2001 saat menjadi tuan ruamh gelaran APEC. Dari situ, geliat pembangunan menjadi pesat dan tertata rapi hingga saat ini.

Peta tata kota Shanghai


Terbaru, Shanghai baru saja memiliki bangunan tertinggi di kotanya bernama Shanghai Center yang terletak di kawasan pusat finansial. Bangunan dengan arsitektur modern ini memiliki ketinggian hingga 632 meter dengan 127 lantai.

Saat rombongan berada di lantai 4, pemandu memperlihatkan miniatur seisi Kota Shanghai yang ada di tengah-tengah lantai 2. Betapa menakjubkan!

Semua bangunan satu per satu secara detail ada dalam bentuk miniatur. Sehingga, tidak ada bangunan yang berdiri secara liar atau di luar dari master plan.

Nah untuk master plan sendiri, Shanghai membutuhkan waktu 100 tahun. Bisa dibayangkan, matangnya penataan kota ini.

Di bawah Sungai Huangpu, ada 12 terowongan untuk dilalui kendaraan dan kereta bawah tanah (subway). Rencananya, pemerintah setempat dalam waktu dekat akan menambah 10 terowongan lagi di bawah Sungai Huangpu.

Dari bentuk miniatur, tidak terlihat ada banyak rencana pembangunan jembatan penyeberangan sungai di kota ini. Terdapat satu jembatan laut bernama Donghai Bridge yang menghubungkan pelabuhan darat Yangshan Free Trade Port Area ke pelabuhan pangkalan Yangshan Free Trade Port Area di atas Laut China Selatan.

Selain itu juga pengintegrasian transportasi kota di Shanghai juga dipusatkan di Hongqiqo Comperhensive Transportation Hub. Di sana, transportasi umum seperti kereta cepat atau China Railway High-speed (CRH), Mass Rapid Transit (MRT), kereta reguler, bus umum, taksi hingga bandara menjadi terpusat dan saling terhubung. Kawasan pengintegrasian ini selesai dibangun pada tahun 2009.

Seperti kota metropolitan pada umumnya, jalanan Shanghai juga seringkali macet. Untuk mengurainya, pemerintah membangun jalan layang (elevated) secara matang.

Tak hanya mementingkan kecanggihan infrastruktur bangunan, Shanghai juga senantiasa memperhatikan aspek lingkungannya dengan baik. Hampir di setiap pinggir jalan utama atau kawasan, dibangun area hijau walau tidak luas.

Hal ini dikarenakan, Shanghai ingin kotanya menjadi kota ramah atau layak huni di masa yang akan datang. "Sejauh ini tempat penghijauannya masih kurang lg mau ditingkatkan, targetnya harusnya 30 persen. Shangi menuju kota yang layak dihuni. Kota ini merasa belum layak huni seperti kota lainnya," terang pemandu dalam bahasa Mandarin yang diterjemahkan kembali dalam bahasa Indonesia saat mengajak rombongan menyusuri pameran pembangunan.

Hal ini tentu saja mengundang decak kagum diikuti geleng-geleng kepala rombongan MPR yang dipimpin Ketua MPR Zulkifli Hasan. "Mereka masa depannya direncanakan," kata dia.

Bagaimana dengan Jakarta?

(aws/jor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads