Suasana kota, tak lagi indah. Pemandangan pepohonan hijau di tepi badan jalan tak tampak lagi hanya dengan jarak 300 meter. Daun pepohonan yang biasanya hijau menyejukkan mata, kini dari kejauhan berwana hitam karena terselubung asap. Langit yang biasa biru kini tak lagi indah untuk dipandang. Sekeliling langit Riau berwarna putih.
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pagi ini asap sangat pekat sekali. Jangankan di luar ruangan, di dalam rumahpun sesak dengan asap," kata Afan (45) warga Pekanbaru.
Walau asap mengepung dan menyesakan dada, namun aktivitas warga tetap berjalan normal. Aktivitas para pedagang di pasar tradisional Arengka, di Jl Soekarno Hatta tetap menggeliat.
Warga tetap mencari nafkahnya walau kondisi asap pada level berbahaya. Bukan persoalan warga Pekanbaru kebal akan asap, tapi lebih pada keadaan pasrah tanpa bisa berbuat banyak.
![]() |
"Sebenarnya kita ini sudah tak tahan dengan kondisi asap. Bayangkan saja siang malam sampai besoknya lagi, terus menerus kita menghirup asap," tutur Simon (45) seorang pedagang kaki lima.
Sesaknya asap, juga tak menyurutnya pada penjual koran di persimpangan lampu merah. Mereka tak peduli lagi kondisi asap kebakaran lahan ditambah asap dari knalpot kendaraan. Mereka terus berjibaku mencari kehidupan di tengah kabut asap.
(cha/dhn)













































