"Krisis air itu terjadi terutama sekitar 2 minggu yang lalu. Saat ini meteran air sudah dimatikan oleh Water Treatment Plant (WTP) pusat (milik pengelola perumahan) sekitar semingguan, mendekati 2 minggu," ujar Jaja, seorang warga perumahan saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (25/8/2015).
Menurut Jaja, awalnya pihak pengelola tidak menyediakan suplai air kendati para warga telah mengeluhkannya. "Awalnya tidak disediakan, hingga akhirnya warga berinisiatif untuk meminta tanggapan dari pengelola, namun tanggapannya kurang memuaskan," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena kebutuhan air yang semakin mendesak, akhirnya warga berinisiatif membeli dari tangki air dengan harga Rp 60 hingga 70 ribu per meter kubik. Namun kebutuhan air yang berbeda-beda terkadang mengharuskan warga mengeluarkan kocek mencapai Rp 200 ribu.
"Solusi dari mereka belum ada, hanya menyediakan mobil tangki dengan harga air Rp 70 ribu per meter kubik. Harusnya dengan kerugian yang kita dapatkan harusnya pengelola bertanggung jawab. Sebagai konsumen seharusnya kita dilindungi dengan UU Perlindungan Konsumen," kata Jaja.
Warga terus berusaha melakukan komunikasi dengan pihak pengelola terkait krisis air di perumahan tersebut. "Kita sudah layangkan surat dan kita minta waktu sampai hari Rabu (26/8)," jelasnya.
Dia berharap pengelola menyediakan air baik dari sumber mana pun dan tidak memberatkan warga. Mereka ingin pihak pengelola menjamin persediaan air dengan tarif yang normal.
"Kita berusaha nge-link ke WTP-nya, tapi kan harus melalui pengelola. Tapi dari pengelola belum ada itikad baik ya, namun kita masih menunggu," tutup Jaja.
(rni/nrl)










































