Musala tersebut hanya berjarak 8 meter dari bibir Kali Ciliwung.Β Sedang satu rumah yang berdri di samping musala, yang jaraknya 6 meter dari sungai, diratakan.
"Menurut pengukuran (normalisasi Ciliwung), musala tidak kena perobohan," ujar pengurus Musala Al-Jamaatul Khoiriah Ustad Haji Maulana (49) di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Minggu (23/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Maulana menjelaskan di Kampung Pulo terdapat 7 musala, namun hanya Musala Al-Jamaatul Khoiriah yang dekat dengan bibir kali Ciliwung. Menurutnya, tempat salat yang berdiri sejak puluhan tahun ini sudah banyak dikenal oleh beberapa warga di luar daerah.
![]() |
"Saya lupa musala berdiri sejak tahun berapa. Tapi sejak saya lahir sudah ada.. Musala ini terkenal juga lho, banyak warga-warga dari daerah sering sembahyang disini," terangnya.
"Yang terpenting Alhamdulillah musala tidak dirobohkan," tambahnya.
Pengurus musala |
Musala itu tidak dirobohkan berdasar kesepakatan pemerintah dengan warga Kampung Pulo serta ormas FPI. Mereka menyampaikan 3 permintaan yang semuanya diakomodasi, yaitu makam habib dan musala tidak ikut digusur. (Baca juga: Kapolda Metro: 3 Permintaan Warga Kp Pulo dan FPI Diakomodir Pemprov DKI). Jumlah bangunan yang diratakan oleh Satpol PP sebanyak 518 bidang. Pemprov DKI Jakarta merelokasi warga Kampung Pulo di Rusunawa Jatinegara Barat, 1 km dari hunian lama yang selalu kebanjiran.
Makam Habib Kosim juga tidak digusur/Taufan Noor |
(fan/nrl)














































Pengurus musala
Makam Habib Kosim juga tidak digusur/Taufan Noor