Ketua MPR Bertemu Kongres AS, Bahas Islam dan Demokrasi Indonesia

Ketua MPR Bertemu Kongres AS, Bahas Islam dan Demokrasi Indonesia

Idham Kholid - detikNews
Minggu, 16 Agu 2015 13:32 WIB
Ketua MPR Bertemu Kongres AS, Bahas Islam dan Demokrasi Indonesia
Foto: Idham
Jakarta - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menerima kunjungan 6 orang delegasi Kongres Amerika Serikat. Pertemuan itu membahas sejumlah isu seperti islam dan demokrasi di Indonesia.

Pertemuan itu digelar di ruang kerja Zulkifli Hasan di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Minggu (16/8/2015). Pertemuan yang dimulai sejak sekitar pukul 11.30 WIB itu berakhir pukul 12.21 WIB.

"Jadi memang penting ya kita dikunjungi, ada 6 delegasi kemari. Saya sebagai Pimpinan MPR mengutamakan menerima kunjungan-kunjungan dari teman-teman luar negeri, terutama parlemen-parlemen negara maju seperti Amerika, Eropa dan lainnya untuk datang kemarin melihat Indonesia agar tak salah persepsi mengenai Indonesia," kata Zulkifli usai pertemuaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Enam delegasi kongres AS itu yaitu Ketua Dlegasi Vern Buchanan, David Price, Adrian Smith, Susan Davis, Dina Titus, dan Jim McDermott. Duta Besar AS untuk Indonesia, Robert Blake, juga turut dalam pertemuan tersebut.

Zulkifli menjelaskan, mengundang parlemen dari berbagai negara sahabat ke Indonesia merupakan salah satu program pokok MPR. Tujuannya, agar negara-negara lain bahwa meskipun muslim di Indonesia mayoritas, tapi merupakan muslim yang moderat, universal, toleran, bisa melaksanan demokrasi dengan baik, mengho rmati apapun agama yang ada di Indonesia, berbeda dengan di Timur Tengah.

"Ini lah yang perlu kita sampaikan pada sahabat-sahabat kita yang di luar (negara lain), negara maju, agar mereka paham mengenai Indonesia secara utuh. Mudah-mudahan dengan begitu kita saling menghargai dan kita bisa jadi model di berbagai belahan dunia lainnya," ujarnya.

Menurut Zulkifli, Delegasi Kongres AS mengapresiasi kondisi keharmonisan antar umat beragama di Indonesia. Termasuk juga demokrasi di Indonesia yang berkembang dengan baik kendati baru berumur 17 tahun.

"Dia juga nanya bagaimana di sini, biasanya di sana keras, bagaimana di sini, saya jelaskan memang awal-awalnya kita surplus demokrasi, tapi sekarang alhamdulillah sudah boleh seimbang. Walaupun ada dua koalisi, tapi kepentingan nasional kita bisa bersama-sama," pungkasnya.

Selain itu, lanjut Zulkifli, pertemuan itu juga membahas kerjasama dalam bentuk Trans Pasifik Partnership (TPP). Zulkilfi rencananya akan menyampaikan hal itu ke Presiden Joko Widodo.

"Tadi diminta ada kerjasma bentuk TPP. Itu nanti yang saya sampaikan kepada Bapak Presiden, bahwa ini penting dan mudah-mudahan saling menguntungkan. Karena bagaimana pun kita butuh dukungan teknologi, bahan baku, modal, kerjasama, karena presiden programnya kan akan membangun cepat, apakah infrastrur dan lainnya," urainya.

Saat ditanya lebih jauh apa itu TPP, Zulkifli menjelaskan bahwa TPP merupakan kerjasama di berbagai bidang yang diinisiasi beberapa negara. Namun Zulkifli tidak menjelaskan negara-negara mana saja yang dimaksud.

"Bisa untuk permodalan, berbagai bidang lah. Tidak detil tadi kami bahas. Tapi kalau saya tangkap, dengan kerjasama itu akan memudahkan kedua belah pihak, kita maupun mereka," pungkasnya.

(idh/van)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini