"Diaspora harus jadi unggul di tempatnya masing-masing. Dulu saya nggak mau dikacungi," kata Habibie dalam diskusi di gedung Bidakara, Jl Gatot Subroto, Jaksel, Rabu (13/8/2015).
Ia mengatakan orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri harus unggul dengan prestasi yang nyata, bukan berpolemik. Diaspora yang menjadi wadah orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri haruslah menjadi tempat orang-orang yang memiliki visi membangun Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia bercerita tentang pengalamannya bekerja di perusahaan penerbangan Messerschmitt-Bolkow-Blohm di Hamburg, Jerman. Ia mencapai puncak kariernya sebagai wakil presiden bidang teknologi. Namun, ia meninggalkan posisi itu saat Presiden Soeharto memanggilnya pulang ke Indonesia untuk membangun industri penerbangan Indonesia.
Menurutnya, Indonesia harus mengembangkan pembangunan yang fokusnya ada pada pengembangan sumber daya manusia. Hal ini karena negara-negara besar seperti Jepang dan negara-negara di Eropa membangun negaranya dengan mengembangkan SDM meski dengan sumber daya alam yang terbatas.
Ia menilai, saat ini Indonesia masih fokus pada 'masa kini' dan bukan 'masa depan'. Hal lainnya, ia melihat ada rasa ego para pemimpin yang tak jarang membongkar karya pendahulunya hanya untuk membuat karya miliknya.
"Saya menciptakan pesawat untuk Indonesia 25 tahun atau 50 tahun mendatang. Jangan baru 5 tahun sudah dibubarkan dengan alasan saya ingin buat jejak sendiri, no way," tegasnya
(bil/faj)











































