Musyafak meminta masing-masing kubu legowo dengan hasil dan realitas politik yang ada serta tidak memaksakan kehendak hanya karena ingin menjadi pemenang.
"Ayo kita jaga marwah dan muruahnya organisasi yang dibangun oleh para ulama pendahulu kita. jangan korbankan NU hanya karena ambisi dan nafsu berkausa segelintir orang. warga nahdliyin yang jutaan sedang menggu keputusan terbaik dari muktmar ke 33 ini," kata Musyaffak di alun-alun Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8/2015) malam.
Musyafak juga menceritakan terkait apa yang terjadi di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombanh. Musyafak mengaku bahwa dirinya bersama beberapa peserta muktamar lainnya tidak bisa keluar dari Ponpes karena larangan yang dilakukan oleh Banser dan Tim Sukses kubu Gus Sholah, Andi Jamaro.
"Saya tidak boleh keluar, kalau memaksa keluar ID card saya diambil. Intinya saya dan kawan-kawan tidak boleh ke alon-alon. padahal banyak yang ingin mengikuti sidang pleno terakhir untuk memilih ketua umum PBNU yang baru," ujarnya.
Musyafak mengaku sudah menemui Andi Jamaro Dulung untuk meminta izin keluar Ponpes, namun Andi meminta tetap bertahan, karena kalau keluar khawatir akan ada penculikan.
"Saya kasian teman-teman yang belum bisa keluar, mereka hanya berdiri-berdiri di sana. Sebab, kami tadi hanya diajak rapat di lantai 3 yang katanya untuk muktamar tandingan, dan mujahadah. setelah itu ya kami duduk-duduk dan menunggu agar kami bisa keluar," terang Musyafak yang mengaku bisa keluar lantaran beralasan ingin ke penginapan itu.
(idh/fdn)











































