Pemilihan PP Muhammadiyah periode 2015-2020 dijadwalkan akan diselenggarakan Rabu (5/8) besok. Toni, demikian dia akrab disapa, meminta para pemilik suara mempertimbangkan kembali siapa saja yang benar-benar layak untuk dipilih esok hari.
"Masih ada waktu satu malam untuk berdoa meminta petunjuk Allah siapa sebenarnya yang paling layak mengemban amanah kepemimpinan Muhammadiyah lima tahun ke depan," kata Toni di Makassar, Selasa (4/8/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, visioner, yaitu pemimpin yang paham strategi dakwah dalam konteks abad digital. "Mimbar dakwah dan kultum penting tapi tidak lagi cukup untuk dakwah amar makruf nahi mungkar dalam konteks kekinian. Dakwah melalui aktivasi digital menjadi sangat penting," ulasnya.
Kedua, memiliki kemampuan komunikasi sosial-politik yang baik. Hal ini berkaitan dengan proses demokratisasi di Indonesia, utamanya terkait dakwah amar makruf nahi munkar yang akan lebih efektif bila masuk ke area "jihad konstitusi", yaitu ikut berperan serta merumuskan perundang-undangan yang berpihak kepada ummat dan bangsa.
"Untuk itu diperlukan kemampuan berkomunikasi dengan partai-partai politik, gerakan masyarakat sipil dan media massa," ujar mantan Sekretaris Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah ini.
Ketiga, butuh independensi politik. Hiruk-pikuk dan tarik-menarik kepentingan politik nasional akan mempengaruhi independensi Muhammadiyah. "Karena itu kepemimpinan Muhammadiyah mesti bisa mempertahankan independensi sambil menjaga kedekatan dan jarak yang sama dengan semua partai politik," ujarnya.
"Dengan berdoa dan mengacu kepada keriteria di atas semoga terpilih pemimpin Muhammadiyah yang mampu berdakwah di abad ke-dua," pungkas Toni. (tor/fdn)











































