Zulkifli mengatakan bahwa dia sempat ke Surabaya dan berdiskusi dengan pengurus daerah PAN terkait calon tunggal. Dia tidak setuju bila Risma sebagai petahana yang kuat lalu diboikot.
"Saya tidak setuju kalau diboikot. Katanya Risma berat. Ya, Risma berhasil, prestasi bagus, rakyat suka. Kalau dipilih lagi karena berprestasi. Kalau diboikot, itu jadi kepentingan jangka pendek, pragmatis, mengabaikan kepentingan rakyat," kata Zulkifli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari Sabtu, saya instruksikan DPP PAN kirim rekomendasi dukung cawalkot terbaik kedua. Dhimam Abror, itu usulan kita. Pakde Karwo usulkan Haries," ucap pria yang menjabat sebagai Ketua MPR ini.
Pada Senin (3/8) sore, Dhimam dan Haries pun datang ke KPU untuk mendaftarkan diri. Namun, tiba-tiba Haries menerima telepon, ke toilet, dan tidak kembali lagi.
"Ini aneh, pertama di dunia. Kami marah juga. Tidak tahu wakilnya apa dapat ancaman atau bagaimana jadi tidak balik," ujar Zulkifli.
Pada akhirnya, pendaftaran Dhimam-Haries tidak diterima oleh KPU. Pilkada Surabaya pun hanya diikuti oleh calon tunggal dan terancam ditunda ke 2017.
(imk/van)











































