"Kalau melihat ini jujur saya sedih. Saya ini ingin menjadi orang baik setelah menjadi sekretaris NU. Tapi ketika melihat forum ini, betapa malu para pemimpin, ulama berdebat tentang bagaimana untuk menentukan tata tertib pasal 19 (tentang AHWA) itu harus ditunda karena ingin merebut sesuatu. Ini yang saya sedihkan," ujar Sekretaris PWNU NTB H Lalu Winagan saat jumpa pers di Media Center Muktamar ke 33 NU di SMAN 1 Jombang, Senin (3/8/2015).
Lalu juga menceritakan, banyak ditanya oleh teman-temannya terkait kondisi muktamar NU yang tidak kondusif. Mereka juga malu karena muktamar NU tidak seperti muktamar Muhammadiyah.
"Betapa adem-ayemnya di Muhammadiyah. Sedangkan NU seperti itu. Saya kalau mengingat ini, terus terang sedih. Saya (memang) orang nakal, (tapi) apa harus ditontonkan kepada masyarakat bahwa NU seperti ini?" terangnya.
Ia juga meminta kepada muktamirin untuk menaati Rois Aam. Serta mengajak kepada seluruh muktamirin, untuk bersama-sama jangan sampai terpengaruh isu-isu berbagai macam yang berkembang di acara muktamar.
"Sehingga kita tontokan kepada umat Islam di seluruh dunia bahwa, NU tempat orang minta fatwa bukan tempat orang saling hujat-menghujat, bukan tempat orang dicaci-maki. Apalagi dilakukan oleh para pemimpin yang datang dari seluruh negeri. Sekali lagi, mari kita semua peserta muktamar dan pemimpin NU di masing-masing wilayah dan cabang, kita jaga muktamar supaya berjalan aman, tertib dan damai," jelasnya.
Terkait sistem AHWA yang masih diperdebatkan, PWNU NTB tetap berjuang mempertahnakan sistem tersebut yang sudah dibahas diacara pra muktamar di NTB.
"Seperti yang disampaikan ketua kami (Ketua PWNU NTB Tuan Guru Taqiuddin Mansur), tentang AHWA sudah diselenggarakan di pra muktamar di NTB. Tentunya NTB akan tetap memperjuangkan itu dan tidak berubah bahwa pemilihan Rois Aam dengan AHWA," tandasnya.
Sementara itu, Asyari Husein, Rois Syuriah PCNU Kabupaten Kerinci, Kabupaten Jambi mengimbau kepada seluruh muktamirin, untuk mengedepankan akal sehat dan akhlakul karimah.
"Supaya muktamar kali ini bisa berjalan dengan baik dan menghasilkan, memberikan kontribusi kepada nahdliyin, umat Islam nusantara dan seluruh dunia," kata Husein.
"Kalau hari ini mengusung tema Islam Nusantara, intinya Islam rahmatan lil alamin. Justru kita lihat yang terjadi di forum muktamar itu bertolak belakang dengan rahmatan lil alamin," tuturnya.
Jika jamaahnya sudah bentrok seperti yang terjadi, menurutnya muktamirin lebih dari orang radikal dari orang-orang yang disebut radikal. "Oleh sebab itu, kita mengimbau, mari berpikir ulang untuk kemaslahatan umat NU yang besar ini. Mari kita perlihatkan kepada dunia, NU orang orang yang berakhlakulkarimah, memahami Islam yang lebih baik," jelasnya.
Mengenai pedebatan tentang AHWA, menurutnya sistem tersebut pas untuk pemilihan Rois Aam PBNU. "Kenapa, karena tidak pas mempertandingkan para ulama-ulama sepuh itu seperti di pertanidngan partai politik," ujarnya.
"Kalau ada hal yang belum sempurna, mari disempurnakan. Kalau di AD ART belum ada, mari kita bicarakan di AD ART. Kita masukkan di AD ART, tapi kita sepakati berlaku mulai di muktamar ini," jelasnya.
Sedangkan Sahru Pohan, pengurus PCNU Padang Lawas, Sumatera Utara menambahkan, pihaknya mendukung sistem AHWA bukan semata-mata karena uang (money politik). Namun, ingin menghormati ulama sepuh.
"Kita mendukung AHWA bukan semata-mata memakai duit. Itu fitnah. Kami siap disumpah sekarang. Kami mencintai ulama,"ujarnya.
"Kita datang ke sini biaya sendiri. Kami merasa NU bukan partai politik, tapi semata-mata untuk rakyat," katanya sambil menambahkan bahwa pihaknya tetap ingin berlandaskan Al Quran dan Hadits. (roi/bag)











































