60% Hutan di Sumsel Rusak Berat
Rabu, 23 Feb 2005 16:54 WIB
Palembang - Sekitar 60% hutan di wilayah Sumatera Selatan saat ini dalam kondisi terdegradasi atau terbuka. Penyebabnya karena aktifitas ekonomi para petani. Bahkan, demi Rp 25 ribu seorang petani tidak segan-segan menebang kayu di hutan.Demikian disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Dodi Supriadi kepada pers dikantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Rabu (23/2/2005)."Pola penanganan degradasi hutan di Sumsel yang harus kita terapkan berbeda dengan di Riau. Ini karena kerusakan hutan di Riau akibat illegal logging, semata-mata hutan dimanfaatkan dan dijual. Sedangkan, di Sumsel masyarakat membuka hutan untuk berladang," katanya. Oleh karena itu, kata Dodi, penanganan yang cocok adalah dengan memberi kesadaran kepada masyarakat seperti yang kini tengah dikembangkan di Sumsel. Selain itu, tingkat perekonomian masyarakat yang rendah juga menjadi faktor penyebab warga membuka hutan. Dicontohkannya, keinginan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk menebang hutan karena ketidakberdayaan mereka menolak keinginan para cukong yang menawarkan nilai ekonomis terhadap kayu-kayu hutan, yang selama ini dinilai tidak begitu ekonomis.Padahal, lanjut dia, upah yang mereka terima untuk menebang hutan tidak sebanding dengan risiko yang akan dihadapi seperti tertimpa pohon, tertangkap polisi kehutanan, dimangsa binatang buas, serta berbagai risiko lainnya. "Upah yang mereka terima paling tinggi Rp 25 ribu, sementara risiko yang mereka hadapi sangat besar," kata Dodi.Saat ini upaya reboisasi di beberapa kawasan hutan yang terdegradasi telah dilakukan pemerintah setempat, antara lain membagi-bagikan areal reboisasi berupa kaplingan seluas 900 ribu hektare.
(umi/)











































