Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Gunungkidul, wilayah yang paling banyak mengalami kekeringan dan krisis air bersih ada di wilayah selatan di wilayah pegunungan seribu. Ada sebanyak 282 telaga di Gunungkidul. Dari jumlah itu hanya 71 telaga yang masih bisa digunakan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan air. Sedangkan sisanya tidak bisa digunakan lagi atau benar-benar kering.
Dari 18 kecamatan di Gunungkidul, telaga-telaga tersebut tersebar di 10 kecamatan. Kecamatan, Girisubo sebanyak 27 telaga, Kecamatan Rongkop 48 telaga, Kecamatan Ponjong 21 telaga. Kecamatan Semanu ada 42 telaga, Kecamatan Tanjungsari ada 27 telaga dan Kecamatan Tepus 32 telaga. Selanjutnya Kecamatan Panggang sebanyak 22 telaga, Kecamatan Purwosari 31 telaga Kecamatan, Saptosari 21 telaga, danย Kecamatan Paliyan 10 telaga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu berdasarkan pemantauan detikcom mulai dari Kecamatan Tanjungsari, Panggang, Saptosari, Paliyan, Tepus, Rongkop beberapa telaga ada yang benar-benar kering dan sudah tidak ada airnya sama sekali. Ada pula telaga yang masih ada airnya namun jumlahnya sedikit dan airnya sudah tidak bisa digunakan lagi. Di Kecamatan Panggang yang masih ada airnya yang bisa digunakan warga diantaranya Telaga Towet yang berada tidak jauh dari petilasan Kembang Lampir.
Saat ini warga sudah tidak bisa memanfaatkan kebutuhan air dari telaga. Untuk kebutuhan sehari-hari warga membeli air bersih dari tangki swasta. Satu mobil tangki bersisi 5 ribu liter, warga harus mengeluarkan uang sebesar Rp 120 ribu-160 ribu tergantung jarak yang akan dituju. (bgs/try)











































