Pria kelahiran Bau-bau, 16 September 1968 ini merupakan manajer sebuah perusahaan swasta di Cikarang, Bekasi. Perusahannya merupakan perusahaan multinasional dengan produk yang iklannya kerap tampil di berbagai media massa.
Ia meraih gelar SE dari sebuah kampus swasta di Yogyakarta pada 1993 dan setelah lulus ia bekerja sebagai Head of Personnel & General Affair Corporate Secretary di sebuah perusahaan swasta. Dua tahun setelahnya ia memasuki perusahaan multinasional hingga ia tertangkap membawa narkoba pada 2 Agustus 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga menyelesaikan pendidikan S2 dari sebuah kampus swasta di Jakarta Timur pada tahun 2010.
Dengan posisi dan kinerja di atas, hidup Musba dan keluarganya lebih dari cukup. Ia memiliki dua rumah, dua mobil, seorang istri dan dua orang putra. Hingga ia berkenalan dengan seorang warga Nigeria bernama Lamido pada 2008 di media sosial. Lewat jejaring sosial, Lamido mengajak Musba kerjasama bisnis dan Musba mengiyakannya.
Siapa nyana, bisnis ini fiktif belaka. Hartanya malah habis untuk memodali usaha itu. Hingga ia tertangkap di Bandara Soekarno-Hatta seusai pulang dari Hong Kong karena di tasnya ada narkoba jenis sabu 3,5 kg yang dititipkan Lamido.
"Kalau saya meyakini klien ini disiapkan tanpa sadar untuk membawa tas itu dengan dibungkus penipuan bisnis," kata kuasa hukum Musba, Abdul Hamim Jauzi saat dimintai keterangan soal kasus yang menjerat kliennya.
Lantas siapakah Lamido? Ia menghilang begitu tahu Musba ditangkap. (asp/rvk)










































